Investasi lainnya
( 1343 )Proyeksi Pendanaan Perusahaan Rintisan Semester II/2019, Investasi Startup Bakal Marak
Tren aliran dana investasi skala besar kepada perusahaan rintisan diyakini kembali marak pada semester II/2019 setelah pada paruh pertama tahun ini mengalami penyusutan dibandingkan dengan tahun lalu.
Nilai total investasi perusahaan rintisan di Asia Tenggara hampir menyentuh US$6 miliar sepanjang paruh pertama tahun ini, menurun 27% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$8,3 miliar. Sementara investasi yang terhimpun di Indonesia mencapai US$679 juta, anjlok dari semester I tahun lalu yang mencapai US$4 miliar. Diprediksi investasi akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Pasalnya, besaran investasi jumbo yang tengah dihimpun decacorn dan unicorn saat ini bakal dikucurkan pada semester II.
Prospek Investasi, Sektor Makanan Makin Moncer
Prospek investasi di sektor makanan dan minuman diproyeksikan semakin moncer pda semester kedua tahun ini. Pemerintah diminta memperbaiki iklim usaha agar rencana penanaman modal menjadi kenyataan.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor makanan pada Januari—Juni 2019 menduduki peringat keempat dari keseluruhan sektor dengan nilai Rp21,26 triliun, sedangkan PMA menduduki peringkat keenam senilai US$706,7 juta. Dampak perang dagang Amerika Serikat dengan China membawa efek positif investasi di sektor makanan dan minuman. Relokasi pabrik ke Indonesia diprediksi lebih banyak, tidak hanya produsen olahan, tetapi juga industri pendukungnya seperti pabrikan mesin pengolahan.
Biaya Investasi RI Mahal Bikin Pertumbuhan Seret
Biaya investasi yang tercermin dari incremental capital-output ratio (ICOR) masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain. Semakin tinggi ICOR, semakin besar pula biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan output produksi. Pada 2014. ICOR Indonesia tercatat sebesar 5,5. Angka tersebut lumayan tinggi dibandingkan dengan Vietnam 5,2, India 4,9, Malaysia 4,6, Thailand 4,5, dan Filipina 3,7. Namun, saat rata-rata negara Asia Tenggara mengalami penurunan ICOR ke kisaran 3 - 4 pada 2018, ICOR Indonesia justru melambung 6,3.
Menteri Keuangan mengatakan, rendahnya pendidikan dan terbatasnya kemampuan SDM membuat biaya investasi semakin mahal. Menkeu mengklaim setiap tahun pemerintah menggelontorkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, tapi hasilnya belum juga maksimal. Selain kualitas SDM rendah, Menkeu menyebut tingginya biaya investasi disebabkan oleh rumitnya birokrasi di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menambahkan, perlu ada strategi konfigurasi investasi, misalkan penurunan suku bunga riil, optimalisasi investasi sehingga return lebih cepat dan berorientasi ekspor. Selain itu harus ada efisiensi produksi melalui pengembangan energi murah. Ia menyebut pemerintah akan fokus investasi pada sektor non-infrastruktur, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, elektronik, otomotif, dan industri kimia.
Karpet Merah bagi Investasi Mobil Listrik
Presiden Joko Widodo mengaku telah menandatangani Perpres tentang Kendaraan Bermotor Listrik. Aturan itu akan menjadi motor penggerak bagi industri untuk mengembangkan kendaraan bermotor dengan energi listrik. Presiden Jokowi berharap mobil listrik nantinya bisa beredar dengan harga terjangkau. Untuk itu, ada beberapa insentif yang bakal diberikan, antara lain: penghapusan PPnBM.
Tahap awal, kendaraan listrik bisa impor dengan insentif PPnBM 0%. Bertahap ada kewajiban kandungan lokal dari baterai 60%, lainnya 35% selama tiga tahun, dan tahun berikutnya 45%. Agar murah, subsidi harga mobil listrik dari Pemda, termasuk bebas ganjil genap, tarif parkir lebih murah.
Sektor Makanan dan Logam Penyumbang Terbesar Investasi Manufaktur
Industri makanan serta industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, menjadi penyumbang terbesar investasi di sektor manufaktur pada semester I-2019. Dua sektor ini mengkontribusi sekitar Rp 56,68 triliun atau 54% dari total investasi yang masuk ke sektor manufaktur nasional yang totalnya sebesar Rp 104,6 triliun. Sepanjang paruh pertama tahun 2019, investasi yang masuk ke industri makanan mencapai Rp 21,3 triliun dalam bentuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan US$ 706,7 juta (Rp 9,97 triliun) berupa penanaman modal asing. Sementara itu, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya meraup investasi Rp 4,76 triliun berupa PMDN dan Rp 20,7 triliun berupa PMA. Secara total, penanaman modal sektor industri manufaktur di periode Januari-Juni ini berkontribusi Rp 104,6 triliun.
Asing Semakin Leluasa di Bisnis Asuransi
Pemerintah semakin mempermudah investor asing di sektor asuransi. Hal ini tertuang dalam revisi PP 14 Tahun 2018. Dengan aturan ini, perusahaan joint venture yang sudah berdiri lama tidak perlu lagi mengurangi kepemilikan asing meski jumlahnya melebihi 80%. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendukung revisi aturan tersebut.
Industri Pariwisata Sulut, Santini Group Investasi Rp200 Miliar Untuk Bangun Hotel
SantiniGroup menghabiskan dana sekitar Rp200 miliar untuk membangun Luwansa Hotel Manado. Proses konstruksi ditargetkan selesai dalam 14 bulan dan akan beroperasi mulai September 2020. Hotel itu dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi di bilangan Pomorouw, Manado. Proses konstruksi dilakukan oleh PT Recta Construction. Hotel ini memiliki 143 kamar, dan ballroom berkapasitas 800 orang. Ada pula tujuh ruang rapat, kedai kopi, restoran, pusat kebugaran.
Realisasi Penanaman Modal Semester I/2019, Investasi Kian Menggeliat
Total investasi di dalam negeri sepanjang Januari-Juni 2019 tumbuh sebesar 9,4% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang hanya 7,4%. Investasi 5 sektor terbesar pada semester I/2019 yaitu 1) Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi (Investasi 71,8 T); 2) Listrik, Gas, dan Air (Investasi 56,8 T); 3) Konstruksi (Investasi 32 T); 4) Industri Makanan (Investasi 31,9 T); 5) Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran (Investasi 31 T). Walaupun pemerintah telah menawarkan berbagai macam insentif perpajakan untuk sektor manufaktur, realisasi sektor ini masih mengalami penurunan. Faktor yangmenjadipertimbangan investor antara lain daya saing tenaga kerja, kemudahan perizinan, upah tenaga kerja, kepastian bahan baku, dan lainnya.
Investasi Sektor Digital, Softbank Buru Unicorn Baru
Potensi bisnis perusahaan teknologi di dalam negeri yang begitu besar, mendorong Softbank Group mengalokasikan dana khusus bagi Grab untuk menggarap pasar Indonesia. Targetnya, Grab Indonesia menjadi unicorn kelima di Tanah Air. Pada tahap awal, Softbank berkomitmen menggelontorkan dana senilai US$2 miliar melalui Grab Indonesia. Di Indonesia, dua portofolio utama Softbank adalah Tokopedia dan Grab. Kedua perusahaan tersebut juga berkolaborasi sebagai investor perusahaan teknologi pembayaran, Ovo. Softbank berinvestasi melalui dana kelolaan senilai US$200 juta bernama EV Growth, yang dibentuk oleh East Ventures, Sinarmas Group, dan Yahoo Japan. Selama Januari—Juni 2019, investasi yang masuk ke perusahaan berbasis digital di Indonesia sudah melebihi US$541 juta. Proyeksi tersebut tidak termasuk pendanaan ke perusahaan teknologi yang memutuskan untuk tidak memublikasikan nilai investasi yang dikantongi.
Hubungan Bilateral, UEA Investasi US$9,7 Miliar
Tiga perusahaan asal Uni Emirat Arab meneken nota kesepahaman kerja sama investasi dengan tiga perusahaan Indonesia dengan nilai total sekitar US$7,5 miliar—US$9,7 miliar. Kesepakatan tersebut mencakup, pertama, PT Pertamina (Persero) dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dengan nilai investasi US$1,3 miliar—US$2,5 miliar untuk pengembangan Kilang Balikpapan, integrasi rantai pasok elpiji dan nafta, tangki penyimpanan elpiji. Kedua, PT Chandra Asri Petrochemicals Tbk. dan Mubadala Investment Company senilai US$5 miliar—US$6 miliar (100%), dan US$2 miliar—US$3 miliar (50%). Ketiga, PT Pelabuhan Indonesia Maspion dan DP World Asia dengan nilai investasi US$1,2 miliar (fase 1 US$350 juta) terkait dengan pengembangan dan pengoperasian terminal kontainer di Kawasan Industri Maspion di Jawa Timur.









