Investasi lainnya
( 1343 )Babak Baru Investasi di Indonesia
Investor bisa terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur melalui Indonesia Investment Authority. Ekosistem baru ini akan menggairahkan investasi di Tanah Air.
JAKARTA, KOMPAS — Dunia usaha optimistis peluang investor domestik menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan infrastruktur semakin terbuka. Keyakinan ini muncul seiring kehadiran Indonesia Investment Authority atau Lembaga Pengelola Investasi milik Pemerintah Indonesia.
Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) digawangi lima orang anggota dewan direktur dan lima orang anggota dewan pengawas.
Ketua Komisi Tetap Kebijakan Strategis Infrastruktur Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Mohammed Ali Berawi mengatakan, INA akan menghadirkan babak baru bagi ekosistem investasi di Tanah Air. ”Kehadiran INA membuka peluang keterlibatan investor dalam negeri untuk proyek-proyek infrastruktur dengan fleksibilitas dalam berinvestasi, baik dalam bentuk dana atau aset, selama sesuai dengan standar investasi internasional,” ujarnya dalam diskusi virtual, Rabu (31/3/2021).
Selain membuka peluang, INA juga memiliki sejumlah tantangan untuk meminimalisasi risiko kebocoran dan penyalahgunaan dana. Untuk itu, menurut Ali, pemerintah perlu membangun sistem pertanggungjawaban yang transparan dan hati-hati untuk INA.
Anggota Komisi XI DPR, Muhammad Misbakhun, mengatakan, kehadiran INA dapat memacu pemulihan ekonomi Indonesia dari krisis akibat pandemi Covid-19. Akselerasi percepatan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi dapat didorong melalui investasi dari berbagai pihak dan lembaga yang kelak akan dikelola INA.
”Untuk itu, INA perlu menerapkan tata kelola secara baik dalam rangka mencegah potensi yang dapat menghambat proses pemulihan maupun merugikan negara,” ujarnya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi, modal LPI mencapai Rp 75 triliun pada akhir 2021.Unicorn Indonesia Kuasai Aliran Dana Investasi di Asia Tenggara
JAKARTA –
Perusahaan rintisan (startup) teknologi di Asia
Tenggara tercatat meraup
dana investasi hingga
US$ 8,2 miliar selama
2020. Hampir 50% dari
dana tersebut masuk ke
kantong unicorn, antara
lain Grab Holdings,
Gojek, Bukalapak, dan
Traveloka.
Pencapaian itu terungkap dari
riset perusahaan modal ventura asal
Singapura, Cento Ventures. Penggalangan dana start-up Asia Tenggara
pada 2020 mengalami penurunan 3,5%
dibanding 2019 sebesar US$ 8,5 miliar,
karena dipicu oleh pandemi Covid-19. Kesepakatan lebih dari US$ 100
juta mencapai 57% dari total investasi,
sementara kesepakatan antara US$
50-100 juta mencetak rekor dengan
nilai US$ 1,1 miliar, meningkat 26%
dari 2019.
Sekalipun terkena efek pandemi,
Asia Tenggara mengalami penurunan
nilai investasi start-up paling kecil
dibanding pasar negara berkembang
lainnya, seperti India yang turun 31%
dan Afrika anjlok 38%.
“Covid-19 memberikan efek yang
berbeda di setiap negara. Start-up di
Amerika Serikat dan Eropa mencatatkan rekor investasi baru pada tahun
lalu, masing-masing nilai investasi
tumbuh 13% dan 15%. Sementara itu,
Tiongkok juga mengalami pertumbuhan 6%” tulis laporan Cento, yang
dikutip Investor Daily, Minggu (28/3).
Besarnya investasi di Indonesia didorong oleh kesepakatan yang diraih
Gojek. Hal ini juga ditopang oleh startup lain yang meraih pendanaan lebih
dari US$ 100 juta atau disebut mega
deals, termasuk Bukalapak, Waresix,
Kopi Kenangan, dan Linkaja.
Sebagai informasi, Asia Tenggara
merupakan rumah bagi 9 start-up independen dengan 5 anak usaha yang
memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar.
Secara regional, SEA Group, yang
merupakan induk dari Shopee, telah
menyentuh kapitalisasi pasar sekitar
US$ 50 miliar. Adapun perusahaan asal
Singapura JustCo resmi bergabung ke
daftar unicorn di Asia Tenggara pada
akhir tahun lalu.
Berdasarkan data Cento Ventures,
SEA Group dan Grab dikelompokkan sebagai perusahaan independen
dengan valuasi lebih US$ 10 miliar
untuk kawasan regional Asia Tenggara. Gojek masuk kategori ini untuk
Indonesia. Sementara, pada kelompok
perusahaan dengan valuasi lebih
dari US$ 1 miliar, kawasan regional
memiliki Traveloka, Indonesia punya
Tokopedia dan Bukalapak, Singapura
memiliki JustCo dan Qoo10, dan Vietnam punya VNG Corp.
(Oleh - HR1)
Aset Safe Haven, Kian Asik Investasi Emas Digital
Bisnis, JAKARTA — Emas fisik digital memiliki prospek yang bagus di tengah kian gandrungnya masyarakat akan produk investasi. Selain potensi keuntungan di masa depan, perlindungan hukum memberikan kejelasan buat investor.
Berdasarkan Undang-Undang No. 10/2011 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, perdagangan emas digital termasuk kegiatan berjangka komoditas yang diatur, dikembangkan, dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).Bappebti juga telah mengizinkan lembaga kliring berjangka untuk menjamin dan menyelesaikan setiap transaksi di pasar emas digital.Beberapa waktu lalu, Bappebti telah memberikan persetujuan kepada Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) sebagai tempat transaksi, serta PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) sebagai lembaga kliring seluruh transaksi di pasar fisik emas digital. Bappebti juga telah memberikan persetujuan kepada PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) sebagai lembaga depository.Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau PT KBI mengatakan, prospek investasi pada emas fi sik digital sangat baik. Selain terlindungi, nilai investasi awal cukup terjangkau.“Investor bisa membeli dalam jumlah kecil, seperti Rp50.000, sudah bisa berinvestasi pada aset ini,” katanya dalam sebuah webinar, Rabu (24/3) malam.
Division Manager PT Royal Trust Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan, investasi pada aset emas fisik digital bukanlah hal baru. Aset ini sudah cukup lama dikenal.“Memang baru belakangan ini popularitasnya naik. Harga emas fisik yang sepanjang tahun lalu naik juga berdampak ke emas digital yang underlying assetnya adalah emas fisik,” jelasnya saat dihubungi pada Kamis (25/3).Menurutnya, minat masyarakat untuk berinvestasi pada emas digital saat ini cukup tinggi. Hal ini salah satunya didukung oleh sejumlah regulasi dari pemerintah yang memberikan rasa aman kepada investor yang menaruh.
Di sisi lain, emas fisik digital juga lebih aman dibandingkan produk konvensional. Pasalnya, emas fisik biasa umumnya diletakkan pada brankas yang masih ada potensi hilang.Dari sisi akses, emas digital juga menawarkan kemudahan yang terutama dicari oleh generasi muda saat ini. Masyarakat yang berminat untuk membeli emas digital dapat membelinya secara daring melalui aplikasi tanpa harus keluar rumah.Ke depan, Suluh menilai prospek perdagangan emas digital amat bergantung pada pengembangan infrastruktur-infrastruktur terkait. Agar investasi emas digital dapat berkembang, para pelaku pasar dan otoritas terkait wajib mengembangkan beragam kemudahan dan fasilitas lainnya.
(Oleh - HR1)
UEA Gelontorkan Rp 144,6 Triliun ke INA
Jakarta - Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) akan menggelontorkan dana investasi senilai US$ 10 miliar di Indonesia Investment Authority (INA) atau sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah Indonesia. Investasi UEA ini setara dengan Rp 144,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.455 per dolar Amerika Serikat. Nilai investasi UEA merupakan yang terbesar dari sejumlah negara lain yang telah mengumumkan komitmen investasinya.
Bergabungnya UEA semakin menunjukkan tingginya kepercayaan dunia internasional untuk berinvestasi pada INA dan akan semakin menarik investor dunia lainnya untuk bergabung dan berinvestasi. Dengan dana kelolaannya INA diharapkan dapat meningkatkan kemampuan permodalan bagi pembiayaan berbagai proyek pembangunan tanpa meningkatkan utang. Ini dengan diikuti penerapan International best practice serta meningkatkan kinerja dan manfaat aset yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
(Oleh - IDS)
Lembaga Pengelola Investasi, INA Kantongi Komitmen US$10 Miliar
Bisnis, Jakarta - Indonesia melalui sovereign wealth fund yang dikelola Indonesia Investment Authority (INA) mendapatkan komitmen investasi dari Uni Emirate Arab (PEA) melalui mengumumkan akan menggelontorkan dana investasi sebesar US$ 10 miliar atau setara dengan Rp 140 triliun untuk ditempatkan pada INA. Penempatan dana investasi ini merupakan arahan langsung dari Putra Mahkota Abu Dhabi yang juga menjabat sebagai Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata PEA.
Sejalan dengan investasi ini, PEA menjadi investor utama yang terbesar pada INA. Bergabungnya PEA makin menunjukan tingginya kepercayaan dunia internasional untuk berinvestasi pada INA. Komitmen dari Uni Emirat Arab ini melengkapi portofolio INA. Sebelumya, lembaga pengelola investasi itu berhasil meraup beberapa komitmen dari sejumlah negara. Untuk investasi berjenis master fund, INA telah mengantongi kesepakatan dengan United States International Development Finance Corporation, Abu Dhabi Invesment Authority, dan Japan Bank for International Cooperation.
(Oleh - IDS)
Ekonomi Daerah, Kawasan Khusus Pacu Investasi
Bisnis, Surabaya - Geliat investasi di sejumlah daerah mulai bergerak sejalan dengan berbagai upaya promosi dan pembangunan infrastruktur yang terus dikebut. Pengembangan kawasan ekonomi khusus atau KEK juga turut mendongkrak kinerja investasi di daerah. Target realisasi investasi itu salah satunya karena faktor bergeraknya aktivitas ekonomi di tengah pandemi dan upaya program vaksinasi, serta adanya sejumlah perusahaan yang izin beroperasinya pada 2021. Untuk realisasi investasi sejauh ini masih dikontribusi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yakni 70% dan 30% merupakan PMA. Untuk PMA sendiri paling banyak dilakukan oleh Singapura.
Tingginya target realisasi investor itu salah satunya karena faktor bergeraknya aktivitas ekonomi pascapandemi. Selain itu, program vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan oleh pemerintah, perusahaan yang mulai beroperasi 2021, dan Bandara Kediri yang sudah dibebaskan lahannya diharapkan bisa membantu untuk mencapai target investasi. Kawasan industri di Jatim yang akan menjadi daya tarik investor asing adalah Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang sedang menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Manufaktur dan Teknologi Tinggi.
Saat ini, daerah terbesar untuk investasi PMA yakni Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Proses perizinan investasi di Jatim akan lebih dipermudah guna menarik investor. Peluang investasi yang ditargetkan sebesar itu sangat memungkinkan tercapai, bahkan bisa melebihi target karena potensi sumber daya alam, khususnya sektor pertambangan nikel maupun aspal alam kini masuk dalam skala nasional.
(Oleh - IDS)
BPS: Impor Barang Modal Naik 9,08%, Industri dan Investasi Mulai Menggeliat
Jakarta - Nilai impor barang modal Indonesia pada Februari 2021 tercatat sebesar US$ 2,15 miliar, naik 9,08% dibandingkan periode Januari 2021 (month to month/mtm) atau melonjak 17,68% dibandingkan periode sama 2020 (year on year/yoy). Kenaikan impor barang modal yang berkontribusi hingga 16,23% terhadap total impor tersebut dinilai sebagai sinyal positif bagi kegiatan industri atau manufaktur dan investasi ke depan. Nilai impor barang modal mengalami kenaikan karena ditopang oleh peningkatan impor komponen mesin dari Jepang, Filipina, dan Singapura. Selama Februari 2021 lalu, nilai impor mesin dan perlengkapan elektrik naik sampai US$ 172,8 juta. Alhasil, posisi impor meningkat baik secara month to month maupun year to year.
Sedangkan untuk nilai impor bahan baku/penolong sebesar US$ 9,89 miliar, turun tipis 0,5% dari posisi Januari 2021, namun meningkat 11,53% dari Februari 2020. Kontribusi bahan baku/penolong terhadap total impor Februari 2021 ini mencapai sebesar 74,57%. Peningkatan jumlah impor barang modal khususnya impor mesin dan perlengkapan elektrik sejalan dengan ekspansi investasi di sektor manufaktur atau ekspansi dalam bentuk adopsi teknologi produksi baru. Secara month to month (mtm) posisi impor mesin dan perlengkapan elektrik meningkat US$ 172,8 juta.
Dengan adanya peningkatan impor barang modal sebesar 9,08% dibandingkan Januari 2021 atau naik 17,68% dibandingkan Januari 2021 atau naik 17,68% dibandingkan Februari 2020 (year on year/yoy) tidak berarti sektor manufaktur sudah pulih sesuai ekspektasi. Sebab jumlah impor bahan baku dan bahan penolong masih termasuk kontraksi, dimana pada 2020 impor mengalami kontraksi yang cukup besar karena kondisi lockdown Tiongkok. Bila dilihat secara rinci ekspansi impor pada Februari 2021 terjadi karena ada ekspansi produktivitas di sektor riil yaitu sektor makanan dan minuman, agrikultur, teknologi informasi dan kesehatan. Hal ini tidak mengherankan karena sektor-sektor tersebut tidak terlalu tertekan sepanjang pandemi dan dapat berjalan, bahkan tumbuh relatif stabil meski kondisi pandemi.
(Oleh - IDS)
Bebas PPh, Hasil Investasi Dana Haji Lebih Menjulang
Pemerintah menetapkan hasil investasi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bukan menjadi objek Pajak Penghasilan (PPh).
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 18 tahun 2021 terdapat sejumlah instrumen investasi BPKH yang dikecualikan dari pemungutan PPh. Misalnya imbal hasil dari tabungan, giro, dan deposito berjangka milik BPKH pada bank, saham, dan obligasi yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI),
Selain itu penempatan dana BPKH yang bebas PPh adalah imbal hasil dari Surat Berharga Negara, Surat Berharga Bank Indonesia, obligasi daerah, reksadana dalam negeri, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), KIK Dana Investasi Real Estate (DIRE), KIK Dana Investasi Infrastruktur, penyertaan langsung dalam negeri dan luar negeri, serta investasi emas lantakan murni.
Kepala BPKH Anggito Abimanyu, Rabu (10/3), dana kelolaan BPKH tahun ini bakal mencapai Rp 147 triliun dengan hasil investasi atau nilai manfaat Rp 7,8 triliun. Perkiraan ini melihat pencapaian BPKH pada 2020 dana kelolaan sebanyak Rp 145,2 triliun dengan nilai manfaat Rp 7,42 triliun.
Proyeksi Investasi Kuartal I Rp 210 Triliun
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan pada kuartal l-2021 ini realisasi investasi di Indonesia bisa mencapai Rp 210 triliun. Proyeksi realisasi ini berarti sekitar 23,4% dari target sepanjang tahun ini yakni Rp 900 triliun.
Direktur Deregulasi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot mengungkapkan hal ini saat dihubungi KONTAN, Selasa (9/3). Sebagai catatan target 2021 ini naik 8,18% dari realisasi investasi 2020 yakni Rp 826,3 triliun.
Ketua Asosasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani sudah melihat bahwa semua izin usaha sudah difasilitasi langsung oleh BKPM. la pun melihat geliat investasi mulai berjalan sejak awal tahun ini.
Frisian Flag Investasi Rp 3,8 Triliun
Jakarta - PT Frisian Flag Indonesia (FFI) akan membangun pabrik baru dengan investasi tahap awal sebesar 225 juta euro atau Rp 3,8 triliun. Pabrik itu akan menghasilkan susu cair dan susu/krim kental manis. Menteri Perindustrian mengapresiasi langkah FFI mendorong pertumbuhan produksi susu segar agar dapat mengimbangi laju pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu. Sebab, sampai saat ini, hanya 22% bahan baku susu yang dipasok dari dalam negeri. Manuver FFI sejalan dengan program Kementrian Perindustrian untuk mewujudkan subtitusi impor sebesar 35% pada 2022.
FFI telah bertahun-tahun menjalin kemitraan dengan koperasi dan peternak sapi perah. Upaya yang dilakukan diantaranya melalui berbagai program seperti bantuan Milk Collection Point (MCP) koperasi susu, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia (SDM) melalui Akademik Peternak Muda dan Farmer2Farmer, serta pembangunan dairy village (desa susu). Menperin optimistis peluang pasar dan tingkat konsumsi produk susu olahan terus tumbuh, seiring terus meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat dan bertumbuhnya kelas menengah, transformasi gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat, serta peningkatan permintaan produk bernutrisi tinggi selama pandemi Covid-19.
(Oleh - IDS)









