Industri lainnya
( 1893 )Industri Halal RI Berkembang Pesat, Kemenperin Siapkan Berbagai Strategi
Industri halal di Indonesia berkembang sangat pesat dan masih punya potensi besar. Pemerintah punya cara untuk menggenjot dan memanfaatkan potensi tersebut.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong agar Indonesla dapat menjadi pusat produsen halal terbesar di dunia melalui berbagai strategi. di antaranya melalui penguatan ekosistem industri halal nasional.
Berdasarkan The State of the Global Islamic Economy Report 2020/21, umat muslim dunia membelanjakan tidak kurang USD2,02 triliun untuk kebutuhan di bidang makanan, farmasi, kosmetik, fesyen, pariwisata, dan sektor-sektor syariah lainnya. Angka tersebut meningkat 3,2% dibandingkan tahun 2018.
Pemerintah Harus Atasi Kelangkaan Kointaner dan Bahan Baku
Pelaku usaha dan industri nasional masih menghadapi berbagai persoalan dan hambatan untuk meningkatkan daya saing dan pasar produk-produk unggulan Indonesia. Persoalan dan hambatan itu, di antaranya serbuan produk-produk impor sejenis, kesulitan bahan baku, serta kelangkaan kontainer dan tingginya biaya pengapalan.Ketua Presidum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, Selasa (21/9/2021), mengatakan, ekspor mebel dan kerajinan memang tengah menguat di masa pandemi Covid-19. Namun, impor produk-produk tersebut juga masih tumbuh HIMKI mencatat, ekspor mebel dan kerajinan pada Januari-Juni 2021 senilai 1,69 miliar dollar AS atau tumbuh 36,1 persen dibandingkan dengan periode sama 2020. Sementara total nilai impor mebel dan kerajinan sepanjang semester I-2021 sebesar 572,894 juta dollar AS atau tumbuh 0,6 persen.
2024, Total Pengeluaran Layanan Makanan Daring Asean US$ 28 Miliar
Grab,
merek pengantaran makanan online (daring)
terkemuka di Asia Tenggara, merilis ‘Laporan Tinjauan Industri Pengiriman
Makanan 2021’ dengan
menggandeng Euromonitor International. Hasilnya,
pada 2025, total pengeluaran layanan makanan
online di Asia Tenggara
(Asean) diprediksi tumbuh tiga kali lipat menjadi
US$ 28 miliar.
Laporan tersebut didasarkan pada penelitian
yang diselesaikan pada
kuartal II-2021. Tujuannya untuk memberikan
pandangan mendalam tentang industri pengantaran
makanan selama lima tahun ke depan, termasuk
memaparkan selera konsumen di Asia Tenggara
pasca-Covid-19.
Bedasarkan laporan
tersebut, jumlah pengeluaran pengantaran makanan online Asia Tenggara diperkirakan tumbuh
lebih dari dua kali lebih cepat dari total pengeluaran
jasa makanan selama lima
tahun ke depan dengan
tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR)
sebesar 24,4% versus 12,1%.
Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Naik Menjadi Rp 119,74 Triliun
Pendapatan industri asuransi jiwa d tanah air meningkat 64 persen (year-on-year/yoy) sepanjang semester pertama 2021, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kenaikan pendapatan mencapai Rp 46,74 triliun menjadi Rp 119,74 trilliun.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Budi Tampubolon menyebut kenaikan ini menandai adanya sinyal pemulihan di industri. Salah satunya terlihat dari sisi pendapatan, di mana premi tumbuh sebesar 17,5 persen yoy.
Menurut Budi, besarnya pertumbuhan premi bisnis baru sangat ditopang oleh menguatnya peran penjualan Bancassurance. Saluran distribusi ini tumbuh 37,5 persen atau setara nilai premi Rp 37,96 triliun pada tahun ini.
Industri Kuliner Sumbang PDB Rp 455 Triliun
Industri kuliner menyumbang produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 455,55 triliun atau 40,13% pada 2020. Kontribusi tersebut berpotensi terus meningkat, mengingat Indonesia memiliki 50% bumbu dan bahan makanan dunia. “Kuliner Indonesia memiliki kekuatan dan potensi untuk lebih dikenal di dunia. Dengan keragaman kulinernya, di mana terdapat kurang lebih 5.300 masakan khas Nusantara. Indonesia kaya akan kesempatan untuk memilih representasi diri terbaik melalui cita rasa di lidah kepada bangsa lain di dunia,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno dalam acara konferensi pers Bocuse d’Or, secara daring, Senin (30/8)
Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memiliki tanggung
jawab untuk terus meningkatkan
dan mengembangkan subsektor
kuliner. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah dengan keikutsertaan Indonesia dalam kompetisi kuliner terbesar dan paling
bergengsi di dunia, yaitu Bocuse
d’Or, yang akan diselenggarakan
pada 26–27 September 2021, di
Lyon, Prancis.
Bocuse d’Or dianggap sebagai
olimpiade di bidang kuliner, yang
akan mempertandingkan 24 chef
terbaik dunia yang sudah lolos
seleksi melalui kompetisi tingkat
regional.
Pelaku Industri Hasil Tembakau Kompak Tolak Kenaikan Cukai
Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Jatim Sulami Bahar mengatakan pelaku industri hasil tembakau (IHT) amat terpukul karena pandemi Covid-19. Sejak pandemi kenaikan eksesif tarif sebesar 23 persen sehingga kinerja IHT mengalami penurunan.
Atas masalah itu, Gapero Surabaya sudah layangkan surat ke Gubernur Jatim terhadap kondisi IHT ini. Sulami menjelaskan, dalam surat resmi Gapero Surabaya tersebut, ada dua tuntutan yang diajukan oleh para produsen rokok tersebut.
Pertama, pemerintah agar tidak menaikkan tarif cukai untuk tahun 2022 mendatang Kedua, Gapero mengusulkan untuk tahun fiskal 2023 dan seterusnya, pemerintah menerapkan formula kenaikan tarif cukai IHT berbasis angka inflasi atau angka pertumbuhan ekonomi, atau keduanya. "Kedua hal tersebut dinilai kami sangat memiliki fungsi vital untuk menjaga kelangsungan IHT," imbuhnya.
Sulami menjelaskan, Gapero Surabaya sendiri merupakan asosiasi pabrik rokok, yang menjadi bagian dari perkumpulan nasional Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) dan di Jatim ini, GAPPRI menaungi sedikitnya 90.000 orang pekerja yang tersebar di berbagai kabupaten kota. Sulami menambahkan, sepanjang tahun 2020 sendiri, IHT mengalami penurunan sebesar 10 persen akibat Pandemi Covid-19. Jadi, besarnya kenaikan tarif cukai yang mencapai 23 persen tersebut juga meningkatkan Hanga Jual Eceran (HJE) yang naik rata-rata 35 persen di tahun yang sama.
Produksi Gula, Masa Giling Tebu Diperkirakan Berakhir September
Bisnis, Surabaya - Sejumlah pabrik gula (PG) di Jawa Timur memperkirakan proses masa giling tebu tahun ini berakhir pada September dengan mempertimbangkan kesediaan bahan baku tebu di lapangan. Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), proses giling tebu di pabrik sejauh ini tetap lancar mengingat produk yang dihasilkan PTPN XI merupakan kategori kritikal.
Proses giling di masa pandemi mengalami hambatan yakni adanya tenaga tebang yang terpapar Covid-19 di hampir 30% front tebangan. Dalam upaya mencapai target produksi, tetap dilakukan monitoring, evaluasi, dan perbaikan setiap harinya, baik di sisi on farm (kebun tebu) maupun off farm (pabrik). Pada sisi on farm, tebu yang masuk pabrik gula wajib memenuhi standar MBS (Manis, Bersih, dan Segar) sehingga nantinya rendemen yang dihasilkan juga tinggi. Dari sisi off farm, jam berhenti dan losses (kerugian) terus ditekan semaksimal mungkin. Pada musim giling 2021, PTPN X menargetkan produksi gula 330.000 ton dengan tebu digiling sekitar 4 juta ton dan rendemen rerata 8,03% naik dibandingkan dengan sebelumnya 275.000 ton.
Industri Hilir Kehutanan, Potensi Ekspor Tinggi
Industri hilir kehutanan diyakini mampu mencapai nilai ekspor hingga US$12 miliar pada tahun ini.Adapun, sepanjang tahun lalu, industri hilir yang terdiri dari sembilan produk hasil hutan itu telah mencatat kinerja ekspor senilai US$11 miliar. Kesembilan produk tersebut, yakni bangunan prefabrikasi, woodchip atau serpih kayu, furnitur kayu, kerajinan, panel, paper, pulp, veneer, dan woodworking.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan sampai Juli 2021, ekspor industri hilir sudah mencapai US$7,5 miliar. Alhasil, jika rata-rata ekspor US$900 juta per bulan, maka akan ada tambahan US$4,5 miliar lagi.“Insyaallah ekspor bisa tembus US$12 miliar tahun ini karena bisa juga dilihat dari produksi hutan alam yang naik 16,6% per Juli 2021 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” katanya kepada Bisnis, Minggu (15/8).
(Oleh - HR1)Industri Tekstil, Serapan Pasar Domestik Dipacu
Pemerintah akan mendorong penyerapan produk tekstil di pasar domestik sekaligus memacu pengembangan pabrik bahan bakunya di dalam negeri sebagai langkah strategis untuk menahan dampak pandemi Covid-19 terhadap salah satu industri strategis tersebut.Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Farmasi Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu industri strategis yang terdampak paling berat akibat Covid-19. Industri ini tercatat mengalami kontraksi 4,54% pada kuartal II/2021 secara tahunan.Meskipun demikian, ada secercah harapan bila berkaca pada pertumbuhan industri secara kuartalan sebesar 0,48%. Ekspor sepanjang semester I/2021 juga tumbuh 13% dan investasi naik 27%.Dia menyatakan pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk meminimalkan dampak Covid-19 terhadap industri tekstil dan produk tekstil di dalam negeri. Salah satunya dengan mengembangkan industri bahan baku tekstil dari industri di dalam negeri.Pengembangan tersebut ditempuh dengan peningkatan kapasitas industri rayon dari 856.700 ton pada saat ini menjadi 1,21 juta ton pada 2023 dan kapasitas dissolving pulp-nya menjadi 1,31 juta ton. Selain itu, peningkatan utilisasi industri serat dan filamen poliester menjadi 70% pada 2023 juga menjadi salah satu target.
(Oleh - HR1)Kemenperin: Sektor Makanan dan Minuman Kontributor Terbesar Pertumbuhan Industri
Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan kontributor terbesar terhadap sektor industri pengolahan nonmigas pada triwulan II-2021 yang mencapai 38,42 persen serta memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 6,66 persen.
Industri mamin selama ini telah membawa dampak positif yang luas bagi perekonomian nasional, seperti peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, penerimaan devisa dari investasi dan ekspor hingga penyerapan tenaga kerja yang sangat banyak.
Capaian kumulatif sektor strategis ini dan sisi ekspor juga sangat baik, yaitu mencapai 19,58 miliar dolar AS atau naik 42,59 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya tercatat senilai 13,73 miliar dolar AS.
Putu menegaskan, Kemenperin telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri mamin di tanah air. Misalnya, menjaga ketersediaan bahan baku dan memfasilitasi pemberian insentif fiskal. Pada triwulan II-2021, industri mamin tercatat turnbuh positif di angka 2,95 persen.









