;
Tags

Korporasi

( 1580 )

Laba Industri Pupuk Tumbuh di Tengah Volatilitas Pasar

HR1 08 Mar 2025 Kontan
PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) optimistis dapat meningkatkan pendapatan dan laba melalui ekspansi bisnis di sektor pupuk dan agrokimia setelah melantai di bursa pada 13 Januari 2025. Direktur DGWG, Danny Jo Putra, menyatakan bahwa industri agro input masih memiliki prospek cerah pada 2025, seiring dengan upaya pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan.

Saat ini, bisnis utama DGWG berada di segmen pupuk dan agrokimia, yang menyumbang bagian terbesar dari total penjualan Rp 3,4 triliun pada 2024.

Untuk memperluas pasar, DGWG berencana membangun pabrik pupuk baru di Sumatra dengan kapasitas 200 metrik ton per tahun pada tahap awal. Pabrik ini bertujuan untuk memenuhi permintaan lokal dengan harga yang lebih kompetitif karena biaya distribusi yang lebih rendah.

Selain ekspansi produksi, DGWG juga melakukan diversifikasi produk di segmen pestisida, pupuk, dan alat-alat pertanian. Perusahaan juga menjajaki pasar ekspor untuk produk karbamasi, dengan target wilayah ASEAN, China, Asia Selatan, Australia, dan Amerika Latin (Brazil).

Di dalam negeri, DGWG memperluas cakupan pasar dengan model business to business (B2B) dan business to business to consumer (B2B2C). Dengan strategi ekspansi ini, DGWG menargetkan pertumbuhan pendapatan 16% dan kenaikan laba bersih 27%. Perusahaan juga telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 133 miliar pada 2025, setelah merealisasikan Rp 182 miliar pada 2024.

Dengan ekspansi kapasitas produksi, diversifikasi produk, serta strategi pemasaran yang agresif, DGWG yakin dapat memperkuat posisinya di industri agro input dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Saudi Suntikkan Rp 1,6 Triliun untuk Investasi di AirAsia

HR1 08 Mar 2025 Kontan
Public Investment Fund (PIF) dari Arab Saudi berencana menginvestasikan US$ 100 juta (Rp 1,6 triliun) ke maskapai Airasia Group sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan dengan Asia Tenggara, yang menjadi sumber utama wisatawan ke Saudi. Putra Mahkota Mohammed Bin Salman, yang memimpin PIF, berambisi menjadikan Saudi sebagai pusat perjalanan global guna mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak.

Investasi ini sangat penting bagi Airasia Group, yang tengah mencari pendanaan untuk mempercepat ekspansi setelah mengalami kerugian akibat pandemi. Airasia menargetkan penggalangan dana sebesar RM 1 miliar (Rp 3,68 triliun), dengan PIF sebagai investor terbesar. Selain PIF, Airasia juga menjajaki pendanaan dari investor di Singapura dan Jepang.

Kesepakatan ini bertepatan dengan restrukturisasi kepemilikan Airasia oleh Capital A Bhd, termasuk penggabungan unit penerbangan dengan Airasia X Bhd. Salah satu daya tarik utama Airasia bagi investor adalah pesanan lebih dari 350 pesawat narrowbody dari Airbus, meskipun saat ini hanya mengoperasikan 225 pesawat Airbus.

Menariknya, maskapai Riyadh Air, yang juga dimiliki oleh PIF, telah mengambil alih sebagian slot pengiriman pesawat yang sebelumnya dipesan Airasia. Hal ini memungkinkan Airasia menunda pembelian pesawat baru dan mengalokasikan dana untuk ekspansi lainnya, sementara Riyadh Air mendapatkan armada yang sangat dibutuhkan.

PIF sendiri mengelola aset senilai US$ 930 miliar dan memiliki berbagai bisnis penerbangan, termasuk leasing pesawat, unit helikopter, serta sektor pertahanan dan luar angkasa. PIF juga memiliki 15% saham di Bandara Heathrow, London.

Investasi ini sejalan dengan visi Mohammed Bin Salman dalam proyek Neom, kota futuristik senilai US$ 1,5 triliun yang akan menjadi pusat ekonomi baru di Saudi. Secara keseluruhan, kolaborasi antara PIF dan Airasia diharapkan memberikan manfaat strategis bagi kedua belah pihak dalam industri penerbangan global.

Kredit Macet Rumah Tangga Meningkat di Awal 2025

HR1 07 Mar 2025 Kontan
Ancaman kenaikan kredit macet (Non-Performing Financing/NPF) menjadi tantangan bagi industri multifinance di 2025, memaksa perusahaan leasing meningkatkan pencadangan guna menjaga stabilitas keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat NPF multifinance naik dari 2,70% di Desember 2024 menjadi 2,96% di Januari 2025, menunjukkan risiko pembiayaan yang meningkat.

Ristiawan Suherman, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), menyatakan bahwa meskipun NPF perusahaannya masih terjaga di 1,27%, mereka tetap meningkatkan pencadangan sebesar 7% sebagai langkah antisipasi. Namun, ia tetap optimistis mencapai target laba sebelum pajak Rp 550 miliar pada akhir 2025, dengan strategi menjaga kualitas portofolio dan mendorong pembayaran angsuran lebih awal melalui teknologi digital.

Elisabeth Lidya Sirait, Head of Corporate Secretary & Legal PT Mandiri Utama Finance (MUF), mengatakan bahwa rasio kredit macet mereka masih terkendali, dengan pencadangan berada di 3,5% dari total pembiayaan, serta target menjaga rasio pencadangan di 6% terhadap piutang. MUF juga tetap menjaga stabilitas profitabilitas dengan pencadangan yang terukur.

Sementara itu, Christiel Lesmana, Managing Director PT Mandala Multifinance, menegaskan bahwa perusahaannya akan menyesuaikan pencadangan sesuai dengan perkembangan risiko industri, sambil tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap regulasi.

Perusahaan multifinance menerapkan strategi peningkatan pencadangan dan kehati-hatian dalam penyaluran kredit untuk menghadapi potensi kenaikan NPF, dengan harapan tetap menjaga profitabilitas dan stabilitas keuangan di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.

Harga Emas Naik, Investor Panen Cuan

HR1 07 Mar 2025 Kontan
Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan tetap kuat, terutama didukung oleh tren kenaikan harga emas global dan kerja sama strategis dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Rizal Nur Rafly, Equity Research Analyst Panin Sekuritas, menilai bahwa peningkatan harga emas akan berdampak positif pada ANTM, mengingat penjualan emas menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan. Pada Januari-September 2024, penjualan emas ANTM mencapai 1,4 juta ons troi, naik 67,5% year-on-year (YoY).

Rizkia Darmawan, Analis Mirae Asset Sekuritas, menyebutkan bahwa kemitraan ANTM dengan Freeport, yang melibatkan perjanjian offtake 30 ton emas per tahun senilai US$ 12,5 miliar, memberikan keuntungan dari sisi biaya pembelian lebih rendah, pengurangan eksposur valas, dan penghematan pajak impor sebesar 2,5%. Dengan kerja sama ini, margin emas ANTM diperkirakan meningkat 1%-2%, yang berkontribusi pada kenaikan laba bersih. Selain itu, efisiensi biaya dari smelter FeNi Pomalaa yang beralih ke listrik PLN juga diperkirakan menurunkan biaya tunai produksi.

Namun, tantangan datang dari harga nikel yang melemah akibat kelebihan pasokan global, serta kebijakan pengurangan kuota bijih nikel yang dapat mempengaruhi bisnis nikel ANTM. Michael Wildon, Analis Verdhana Sekuritas, tetap optimistis terhadap prospek ANTM karena fundamentalnya yang kuat dan peningkatan penjualan bijih nikel serta bauksit. Dengan pabrik peleburan Mempawah Alumina mulai beroperasi di semester II-2025, penjualan bauksit diprediksi tumbuh 270% menjadi 2,7 juta ton.

Dugaan penjualan emas palsu oleh ANTM dinilai oleh Rafly dapat berdampak negatif terhadap kepercayaan investor, meskipun efeknya terhadap fundamental perusahaan masih harus dikaji lebih lanjut.

Prospek ANTM tetap positif dengan potensi pertumbuhan laba tahun 2025-2026 sebesar 17%-25%, didukung oleh harga emas yang diproyeksikan naik hingga US$ 2.700 per ons troi. Para analis sepakat memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham ANTM, dengan target harga dari Rp 1.700 hingga Rp 2.100 per saham.

Perbaikan Smelter Manyar, PT Freeport Indonesia, Rampung Juni

KT1 06 Mar 2025 Investor Daily (H)

PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan percepatan perbaikan fasilitas Common Gas Cleaning (CGC) Plant Smelter Manyar, dengan mendatangkan perlengkapan dan komponen kritikal secara bertahap menggunakan pesawat kargo Antonov AN-124 danBoeing 747 ke Surabaya, yang selanjutnya menempu jalan darat ke Gresik, Jatim. “Kami berupaya semaksimal mungkin agar proses recovery berjalan efektif dan efisien agar smelter secepatnya kembali berproduksi. Pemilihan pesawat kargo karena waktu tempuh dari luar negeri hanya 35 jam, jauh lebih cepat dari kapal laut yang memakan waktu 60 hari,” kata Presdir PTFI, Tony Wenas, di Jakarta, Rabu (5/3/2025).

Durasi perbaikan smelter ditargetkan rampung pada Juni mendatang. Rencanakerja sudah disampaikan ke pemerintah dan menjadi dasar pemberian izin ekspor konsentrat tembaga. Pabrik asam sulfat di Smelter Manyar mengalami insiden kebakaran pada Oktober 2024, sebulan setelah diresmikan oleh Presiden Indonesia ke-7 Jokowi. Kebakaran itu masuk dalam kategori kahar sehingga pemerintah memberi kesempatan ekspor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan akan ada sanksi bagi PTFI bila perbaikan pabrik asam sulfat tidak rampung pada Juni mendatang, berupa pungutan pajak ekspor maksimal. (Yetede)

Saham Konsumer Ritel Kian Atraktif Dengan Peluang Cuan Hingga 65 %

KT1 06 Mar 2025 Investor Daily (H)

Ramadan menjadi momentum terbaik bagi emiten konsumer (consumer goods) dan ritel modern untuk memacu penjualan dan menanggok untung lebih, mengingat daya beli masyarakat biasanya lebih meningkat dibanding bulan biasanya. Langkah perusahaan konsumer ritel yang gencar meningkatkan promosi untuk mengoptimalkan perolehan keuntungan, akan membawa saham-sahamnya kian atraktif dengan peluang cuan hingga 65%. “Di tengah kekhawatiran melemahnya permintaan selama musim Idul Fitri, kami tetap meyakini emiten konsumer ritel akan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang solid. Meski, persaingan akan ketat dan volatilitas dariharga komoditas dapat menimbulkan tantangan terhadap margin emiten," kata Analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalina dalam risetnya yang dipublikasi Rabu (5/3/2025).

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyematkan rekomendasi buy untuk empat saham ritel modern, yakni PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga Rp 2.000, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) di target harga Rp 1.250, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dengan target harga Rp 1.100 dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dengan target harga Rp 540. Di sektor konsumer, sekuritas tersebut memberi rekomendasi buy untuk lima saham, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dengan target harga Rp 14.000, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di target harga Rp 8.800, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 1.800, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dengan target harga Rp 3.050, dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dengan target harga Rp 640, serta hold saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di target harga Rp 1.500. (Yetede)

Ekspansi Gerai di Luar Jawa Jadi Andalan Baru AMRT

HR1 06 Mar 2025 Kontan
Strategi ekspansi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke luar Pulau Jawa menjadi faktor kunci dalam memperkuat posisi pasar dan mendukung pertumbuhan jangka panjang, meskipun masih dihadapkan pada tantangan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, prospek AMRT tetap optimistis dengan proyeksi kenaikan penjualan 10%-20%. Faktor pendorongnya meliputi strategi diskon, peningkatan ekosistem digital melalui Alfagift, serta momentum konsumsi saat Lebaran.

Sementara itu, Rifdah Fatin Hasanah, Research Analyst Ina Sekuritas, menilai ekspansi AMRT di luar Pulau Jawa membawa dampak positif dengan pertumbuhan gerai CAGR 11,2%, didorong oleh biaya tenaga kerja lebih rendah dan sewa yang lebih terjangkau. Selain itu, perluasan pusat distribusi dan gudang juga meningkatkan efisiensi rantai pasokan, terutama untuk produk makanan beku bermargin tinggi.

Andrianto Saputra, Analis Indo Premier Sekuritas, mengamati bahwa kinerja AMRT masih kuat di awal 2025, meskipun terdapat tekanan dari peningkatan pengeluaran operasional (opex) akibat pembangunan tiga distribution center (DC) baru pada kuartal III-2024. AMRT juga berencana menambah dua DC di Palangkaraya dan Bengkulu pada semester kedua 2025, yang dalam jangka pendek dapat memberikan tekanan pada leverage operasi.

Ketiga analis sepakat merekomendasikan "buy" untuk saham AMRT, dengan target harga berbeda: Andrianto (Rp 3.050 per saham), Nico (Rp 3.250 per saham), dan Rifdah (Rp 3.300 per saham). Secara keseluruhan, strategi ekspansi dan peningkatan efisiensi diharapkan dapat menjaga pertumbuhan AMRT meskipun masih ada tantangan daya beli.

Ekspansi Gerai di Luar Jawa Jadi Andalan Baru AMRT

HR1 06 Mar 2025 Kontan
Strategi ekspansi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke luar Pulau Jawa menjadi faktor kunci dalam memperkuat posisi pasar dan mendukung pertumbuhan jangka panjang, meskipun masih dihadapkan pada tantangan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, prospek AMRT tetap optimistis dengan proyeksi kenaikan penjualan 10%-20%. Faktor pendorongnya meliputi strategi diskon, peningkatan ekosistem digital melalui Alfagift, serta momentum konsumsi saat Lebaran.

Sementara itu, Rifdah Fatin Hasanah, Research Analyst Ina Sekuritas, menilai ekspansi AMRT di luar Pulau Jawa membawa dampak positif dengan pertumbuhan gerai CAGR 11,2%, didorong oleh biaya tenaga kerja lebih rendah dan sewa yang lebih terjangkau. Selain itu, perluasan pusat distribusi dan gudang juga meningkatkan efisiensi rantai pasokan, terutama untuk produk makanan beku bermargin tinggi.

Andrianto Saputra, Analis Indo Premier Sekuritas, mengamati bahwa kinerja AMRT masih kuat di awal 2025, meskipun terdapat tekanan dari peningkatan pengeluaran operasional (opex) akibat pembangunan tiga distribution center (DC) baru pada kuartal III-2024. AMRT juga berencana menambah dua DC di Palangkaraya dan Bengkulu pada semester kedua 2025, yang dalam jangka pendek dapat memberikan tekanan pada leverage operasi.

Ketiga analis sepakat merekomendasikan "buy" untuk saham AMRT, dengan target harga berbeda: Andrianto (Rp 3.050 per saham), Nico (Rp 3.250 per saham), dan Rifdah (Rp 3.300 per saham). Secara keseluruhan, strategi ekspansi dan peningkatan efisiensi diharapkan dapat menjaga pertumbuhan AMRT meskipun masih ada tantangan daya beli.

Masih Kuatnya Tekanan ke Pasar Saham

KT1 05 Mar 2025 Investor Daily (H)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia(BEI) kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa (4/3/2025), sebesar 2,14 % ke level 6.380,4. Tekanan ke pasarsaham masih kuat, sehingga indeks rawan tergelincir ke level 6.100-6.200. Pelemahan ini terjadi setelah IHSG sempat melonjak 3,97 % sehari sebelumnya, didorong kebijakan OJK yang merelaksasi aturan buyback saham tanpa perlu persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, mencatat, pasar saham domestik masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global.

“IHSG melemah 11,8% month to date (mtd) dan 11,4 % year to date (ytd) pada 28 Februari 2025 ke level 6.270,6,” ujarnya dalam konferensi pers hasil rapat dewan komisioner OJK bulanan (RDKB) Februari 2025, Selasa (4/3/2025). Nilai kapitalisasi pasar turun 11,68 % mtd menjadi Rp 10.879,86 triliun. Tekanan jual asing masih tinggi, dengan net sell Rp18,19 triliun mtd dan Rp 21,9 triliun ytd. Dirut BEI, Iman Rachman menambahkan, Indonesia menempati peringkat ke dua dalam aksi jual asing di kawasan Asean, setelah Thailand dengan net sell Rp 47,8 triliun. Meningkatnya ketidakpastian akibat perang dagang antara AS dan mitra dagangnya menjadi faktor utama yang mendorong aksi jual investor asing. “Ketidakpastian global terkait kebijakan suku bunga The Fed yang cenderung ketat berdampak pada pasar negara berkembang. Ini mendorong peningkatan permintaan terhadap aset safe haven," kata Iman. (Yetede)

Ekspansi Jadi Senjata Baru AKRA Hadapi Tantangan

HR1 05 Mar 2025 Kontan
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menargetkan laba bersih Rp 2,6 triliun di 2025, didorong oleh ekspansi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) BP-AKR dan penjualan lahan industri di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).

Analis Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menilai strategi ekspansi SPBU AKRA bisa sukses karena permintaan bahan bakar tetap tinggi. Namun, fluktuasi harga minyak masih menjadi risiko bagi margin keuntungan AKRA. Sementara itu, segmen lahan industri memiliki potensi besar, terutama jika AKRA bisa menarik investor asing. Tantangan utama adalah regulasi dan proses penjualan lahan yang membutuhkan waktu.

Bob Setiadi dari CGS International Sekuritas melihat bisnis perdagangan dan distribusi AKRA masih menghadapi tantangan. Ia menurunkan asumsi volume penjualan BBM sebesar 1% dan memperkirakan penjualan lahan JIIPE di 2025-2026 hanya 80 hektare. Meski begitu, Bob tetap memperkirakan pendapatan AKRA tumbuh tipis menjadi Rp 38,75 triliun di 2025, dengan laba bersih mencapai Rp 2,4 triliun.

Sementara itu, Niko Pandowo dari Sucor Sekuritas lebih optimistis, memperkirakan penjualan lahan JIIPE bisa mencapai 100 hektare di 2025. Selain itu, tiga penyewa utama di JIIPE, yaitu Freeport, Xinyi Glass, dan Zhejiang Hailiang, diperkirakan mulai beroperasi di semester II-2025, yang bisa meningkatkan pendapatan AKRA.

Regulasi pemerintah yang berencana mengurangi subsidi bahan bakar pada 2027 bisa menjadi katalis positif bagi AKRA sebagai distributor BBM non-subsidi. Niko mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.530 per saham, Bob memberi rating add dengan target harga Rp 1.460, sementara Indy menyarankan buy on weakness dengan target Rp 1.500.

AKRA masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik, tetapi perlu menghadapi tantangan dari fluktuasi harga minyak, regulasi, dan perlambatan penjualan lahan industri.