Korporasi
( 1580 )Ekosistem Industri Penerbangan Tanah Air Dipacu
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong terciptanya ekosistem industri penerbangan di tanah Air mampu memiliki daya siang dengan negara lain. Setiap tahap awal pemerintahan bakal mengembangkan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, menciptakan ekosistem industri penerbangan di dalam negeri harus bisa dilakukan bertahap, salah satunya dengan mendorong ekosistem bisnis layanan fasilitas dan perawatan atau Maintance Repair and Overhaul (MRO) di Tanah Air dengan memanfaatkan Bandara Internasional Kertjati di Jawa Barat. “Untuk ekosistem MRO, saya optimis hars bias bergerak seperti yang kami lakukan di Bandara Kertajati.
Segala upaya kami lakukan, dimana kemarin Garuda Maintance Facility (GMF)
AeroAsia sudah beroperasi di kawasan Aerospace Park Kertajati meski baru
sebatas perawatan helicopter,” ujar Menhub Dudy. Menurutnya lahan untuk
pengembangan Bandara Internasional Kertajati sebagai Kawasan Aerospace Park
juga sudah tersedia. Sehingga dengan beroperasinya GMF diharapkan mampu
mengundang para pelaku usaha lain yang berkecimpung di sektor aviasi dan kargo
untuk bisa berinvestasi Aerospace Park. “Dengan adanya GMF kita berharap bisa memantik industri aviasi lain bisa masuk ke
Kertajati,” Bandara Kertajati tidak hanya berfungsi sekedar bandara, namun juga
bisa berkembang dengan ekosistem aviasi yang lebih besar seperti MRO, kargo dan
penerbangan haju hingga umroh. (Yetede)
Penurunan Bunga Tekan Ekspansi
Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance)
tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini
sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan
bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten
perusahaaan pembiayaan pada kuartal
1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada
kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan
laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana,
pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52
miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11
miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih
Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan
keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi
pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38
miliar. (Yetede)
Penurunan Daya Beli Pukul Multifinance
Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak
Harga Produk Turun, Marjin Laba Terancam
TIK Membeberkan Peran Operator Telekomunikasi dalam Memperkuat Konektivitas
Laba 14 Emiten Multifinance Menurun
Laba 14 Emiten Multifinance Menurun
Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan
BTN Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Kerja
Pilihan Editor
-
Investasi Teknologi
10 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
Tata Kelola Bantuan Sosial Perlu Dibenahi
29 Jul 2022








