Rupiah
( 289 )Rupiah dan IHSG Menguat
Melemahnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 tak memengaruhi nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah dan IHSG tetap menguat kendati ekonomi Tanah Air hanya tumbuh 2,97 persen.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi kuartal pertama lebih rendah dari perkiraan, masih dapat diterima oleh pasar.
Inflasi April yang rendah di 0,08 persen dan tingginya tingkat pengangguran, yaitu di atas dua juta jiwa, di perkirakan akan membuat pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pelonggaran PSBB diharapkan akan membantu roda perekonomian kembali berjalan secara normal sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 15.104 per dolar AS dibanding pada hari sebelumnya di posisi Rp 15.073 per dolar AS.
Analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan, IHSG ditopang oleh data PDB kuartal satu. Meskipun di bawah konsensus, masih positif, beda dengan negara besar lain, seperti Cina dan Amerika yang pertumbuhan ekonominya di kuartal satunya negatif.
Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing sebesar Rp 429,94 miliar.
BI Diyakini Mampu Menjaga Volatilitas Rupiah
Upaya
Bank Indonesia (BI) dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
nampaknya cukup berhasil. Volatilitas nilai tukar rupiah terjaga dengan baik
jika dibanding negara lain meski dipengaruhi sentimen pandemi Covid-19. Berdasarkan data Bloomberg, indeks
volatilitas rupiah memang meningkat pada periode 20 Maret-17 April 2020. Meski cenderung
lebih rendah dibandingkan mata uang lira Turki, real Brasil, dan rand Afrika
Selatan, namun dinilai lebih tinggi dari baht Thailand, peso Filipina, rupe
India, dan ringgit Malaysia. Di sisi lain, ada beberapa negara mengalami
pelemahan nilai tukar terbesar dengan volatilitas tertinggi di sepanjang paruh
kedua tahun lalu, yaitu Turki, Brasil, dan Afrika Selatan dan di atas rerata
volatilitas negara-negara berkembang. rand Afrika Selatan mencatat indeks
volatilitas 18,1%, disusul real Brazil 17%, dan lira Turki 16%.
Ekonom Senior Institut Kajian Strategis (IKS)
Universitas Kebangsaan Eric Sugandi melihat, intervensi BI cukup bisa menjaga
volatilitas rupiah sampai akhir semester I-2020 karena cadangan devisa
Indonesia masih cukup besar. Di samping itu faktor kejutan dari pandemi
Covid-19 juga sudah jauh berkurang dibandingkan pada bulan Februari, Maret,
hingga awal April lalu. Para pelaku pasar juga mulai tidak bereaksi
berlebihan.
Pertamina-PLN Terbebani Utang Valas
Beban utang valas dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), berpotensi membuat kantong perusahaan jebol dikarenakan anjloknya nilai tukar rupiah atas dolar AS. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, saat ini penjualan BBM Pertamina turun sangat dalam hingga 34,6 persen secara nasional dan merupakan penurunan penjualan paling rendah dalam sejarah Pertamina. Nicke menjelaskan, ada dua skenario yang dibuat perusahaan sesuai arahan pemerintah. Pertama, skenario berat dengan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) 38 dolar AS per barel dan yang kedua, skenario sangat berat ICP diasumsikan turun ke 31 dolar AS per barel.
Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengakui, mayoritas utang yang dimiliki oleh PLN saat ini berbentuk valas. Zulkifli menjelaskan, adanya kebutuhan dana untuk investasi yang tidak sedikit sementara ruang pinjaman yang di sediakan oleh perbankan nasional hanya maksimal Rp 140 triliun, membuat PLN harus meminjam dari bank di luar domestik. Zulkifli menyebutkan, setiap pelemahan senilai Rp 1.000 per dolar AS, biaya yang ditanggung PLN bisa meningkat Rp 9 triliun.
Rupiah ke Level 13.000, Pasar Saham Bullish
Pasar Indonesia memang dianggap menarik oleh investor asing. Berdasarkan data BEI, investor asing berkontribusi 35% pada transaksi perdagangan sepanjang tahun ini. Makanya, analis memprediksi pernyataan The Fed bisa mengerek IHSG ke level 7.000, bahkan bisa lebih tinggi lagi.
Neraca Mulai Membaik
Nilai Tukar, Pelaku Usaha Diharapkan Tukar Dolar AS
Gerakan Tukar Rupiah Berlanjut
Penjualan Mobil Naik 7% di Kuartal III
Kepercayaan Investor Global Dukung Stabilitas Rupiah
Awas, Kegiatan Bisnis Dalam Tren melambat
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022




