;
Tags

Bursa

( 810 )

Penggalangan Dana akan Marak Tahun Depan

HR1 14 Dec 2024 Kontan
Penghimpunan dana dari pasar modal diproyeksikan meningkat pada tahun 2025, dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 133 rencana penawaran umum, termasuk 97 perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan initial public offering (IPO). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyebut nilai indikatif dari pipeline ini mencapai Rp 58,34 triliun, mencakup IPO, penerbitan efek utang, dan penawaran umum berkelanjutan.

Sofiyan Adhi Kusumah, Kepala Unit Pengembangan Calon Perusahaan Tercatat 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), optimistis tren IPO akan membaik pada 2025 seiring stabilisasi politik dan pemulihan ekonomi global, dengan mengacu pada peningkatan aktivitas IPO di pasar global seperti AS dan Hong Kong.

Catatan BEI menunjukkan hingga 6 Desember 2024, terdapat 40 emiten baru dengan total dana Rp 10,19 triliun, masih di bawah target 62 emiten untuk tahun tersebut. Saat ini, 24 perusahaan sedang dalam antrean IPO, termasuk PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), yang berpotensi meraup Rp 4,15 triliun.

Direktur Utama Surya Fajar Sekuritas, Steffen Fang, menilai tren penghimpunan dana di pasar modal tetap menjanjikan, dengan fokus pada perusahaan berfundamental solid. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi momentum yang lebih baik bagi calon emiten dengan kualitas yang lebih tinggi, didukung oleh stabilitas politik.

Derasnya Arus Asing Masuk Pasar Saham

KT1 05 Dec 2024 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat 3,97% dari 7.046 menjadi 7.326 hanya dalam tempo dua hari terakhir, sejalan dengan derasnya arus masuk (inflow) asing ke pasar saham. Tercatat, asing membukukan net buy total Rp2,08 triliun pada Selasa (3/12/2024). Pergerakan IHSG makin diuntungkan dengan dimulainya window dressing pada awal Desember ini. "IHSG sudah menyentuh level psikologisnya kemarin di 7.046, dan berpotensi menuju 7.500-7.600 diakhir tahun ini. Pasar modal Indonesia tetap menarik di mata asing, dan sekarang mereka sudah kembali lagi ke saham," kata Head of investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily. Dalam catatan Kiswoyo, IHSG hanya memerah lima kali dalam 25 tahun terakhir, dan Desember biasanya menjadi bulan terbaik bagi IHSG. Dengan pertimbangan hak tersebut dan melihat perkembangan yang terjadi saat ini, dia optimistis IHSG masih bisa mencatatkan pertumbuhan pada 2024. "Meski, dalam perjalanannya IHSG juga tetap rawan penurunan. Karena kenaikan yang cukup tinggi juga biasanya akan diwarnai koreksi," tuturnya. (Yetede)

Saham Perbankan Tetap Jadi Pilihan Utama

HR1 04 Dec 2024 Kontan (H)
Pergerakan saham perbankan di kuartal akhir 2024 cenderung tertekan meski kinerja fundamental perbankan hingga Oktober 2024 solid. Tim Analis OCBC Sekuritas menilai pelemahan ini lebih disebabkan oleh keluarnya dana asing setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang memengaruhi potensi perubahan kebijakan The Fed. Namun, secara fundamental, kredit perbankan diprediksi tumbuh di atas 10% pada 2025.

Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank Mandiri, optimistis kredit konsolidasi Bank Mandiri dapat tumbuh 16%-18% hingga akhir tahun 2024, dengan segmen wholesale sebagai pendorong utama. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, juga yakin target pertumbuhan kredit 9,5%-10% akan tercapai, meskipun faktor likuiditas menjadi tantangan besar.

Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja, dan Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut persaingan memperoleh dana pihak ketiga (DPK) semakin berat. Sementara itu, prospek pertumbuhan kredit tetap besar, terutama di segmen kredit korporasi dan konsumer, termasuk proyek hilirisasi. Namun, Lani mengingatkan perlunya menjaga kualitas kredit agar tidak meningkatkan risiko non-performing loan (NPL) dan beban pencadangan (CKPN).

Miftahul Khaer, analis dari Kiwoom Sekuritas, menilai sektor perbankan masih menarik karena mencerminkan pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Ia merekomendasikan akumulasi saham BBRI dengan target harga Rp 4.440 dan BBCA di Rp 10.600, menilai potensi pertumbuhan sektor usaha yang kembali ekspansif.

Meskipun likuiditas menjadi tantangan utama, optimisme pertumbuhan kredit perbankan tetap tinggi dengan harapan belanja pemerintah yang lebih cepat akan meningkatkan peredaran uang dan mendukung pertumbuhan sektor ini di 2025.

BEI Atur Ulang Batas Auto Rejection untuk Waran

HR1 04 Dec 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan aturan baru mengenai auto rejection untuk waran dan waran terstruktur dalam Perubahan Peraturan Bursa No II-A. Aturan ini membagi pembatasan harga waran ke dalam beberapa rentang berdasarkan acuan harga, bertujuan untuk mengendalikan volatilitas harga dan mencegah manipulasi transaksi.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Irvan Susandy, menjelaskan bahwa meskipun transaksi waran tidak ramai, ketentuan ini tetap diperlukan untuk mengatasi perilaku spekulatif yang sering terjadi. Selama 2024, transaksi waran mencapai 4,53 juta kali dengan nilai Rp 3,34 triliun.

Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mendukung pembatasan ini, menilai bahwa langkah tersebut penting untuk melindungi investor dari pergerakan harga waran yang tidak wajar, terutama yang sering lebih volatil dibanding saham induknya. Ia menyoroti kasus pergerakan harga waran PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRZ-W) pada 27 Maret 2023 sebagai contoh manipulasi harga yang berujung laporan kepolisian.

Aturan baru ini diharapkan mampu menciptakan pasar yang lebih adil dan aman bagi investor, khususnya individu.

BEI Perluas Saham

KT1 03 Dec 2024 Investor Daily (H)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas deretan saham yang dapat ditransaksikan saat pre opening atau sebelum pembukaan perdagangan pukul 9 pagi hari. Menurut Direktur BEI Irvan Sudandy, peraturan tersebut diterapkan untuk memperluas kesempatan bagi saham-saham lain agar dapat berada pada harga terbaiknya pada pembukaan perdagangan. "Pertimbangan BEI unuk memperluas saham-saham dalam sesi pre opening adalah untuk memberikan kesempatan bagi kelompok di luar konstituen indeks LQ45 untuk melakukan price discovery, sehingga harga pembukaaan saham berada pada harga terbaik sesuai dengan informasi pasar sebelum sesi perdagangan dimulai, " kata Irvan.

Awalnya, peraturan penjualan saham pada waktu pre opening hanya diperbolehkan pada saham-saham yang termasuk dalam indeks bergengsi LQ45. Namun, saat ini, selain saham-saham yang bergabung dalam LQ45, ada juga saham-saham papan utama, new economy, dan papan pengembangan yang diperbolehkan. (Penerapan perluasan jumlah saham yang masuk ke dalam sesi pre opening diharapkan dapat membantu mendistribusikan jumlah order secara merata terhadap jumlah order masuk ke dalam sistem perdagangan bursa (JATS) pada detik awal pembukaan sesi satu perdangan, sehingga dapat mengurangi tekanan pada sistem di detik-detik awal sesi perdagangan, Juga menyelaraskan dengan paraktek umum pembukaan perdgangan di bursa regional lainnya," terang dia. (Yetede)

Peluang Window Dressing Kian Memudar

HR1 02 Dec 2024 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami penurunan signifikan pada bulan November 2024, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 6,7%, mencatatkan kinerja terburuk dalam 20 tahun terakhir. Namun, ada harapan untuk kenaikan IHSG pada bulan Desember, terutama karena potensi window dressing oleh manajer investasi besar. Secara historis, IHSG sering mengalami koreksi pada November, tetapi cenderung menguat pada Desember, dengan probabilitas tinggi untuk kenaikan di bulan tersebut.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memperkirakan IHSG akan berada di kisaran 7.150-7.300 pada akhir Desember, dengan kemungkinan kenaikan sekitar 2,61%. Meski ada potensi kenaikan, Nico mengingatkan bahwa pergerakan IHSG cenderung terbatas karena faktor makro ekonomi dan ketidakpastian yang muncul setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter global.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, juga mencatat sentimen negatif akibat kebijakan tarif Trump yang berpotensi mendorong inflasi dan membatasi pemotongan suku bunga oleh The Fed. Ia memprediksi IHSG akan mengalami konsolidasi dengan support di 7.100 - 7.000 dan resistance di 7.250 hingga 7.340.

Di sisi lain, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, lebih optimistis, menganggap IHSG memiliki peluang untuk menguat akibat window dressing dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan menguat pada kuartal IV-2024. Ia memproyeksikan IHSG akan menguji level resistance di 7.300, dan jika berhasil menembus level tersebut, IHSG bisa naik lebih jauh ke 7.600.

Kinerja Lesu, Emiten Turun Kasta

HR1 29 Nov 2024 Kontan
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perubahan papan pencatatan bagi 11 emiten, yang efektif berlaku Jumat (29/11). Hanya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang berhasil naik dari papan pengembangan ke papan utama, sedangkan 10 emiten lainnya turun dari papan utama ke pengembangan. Kenaikan kelas CSRA dinilai mencerminkan kinerja operasional dan keuangan yang positif.

Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa perpindahan CSRA ke papan utama menunjukkan stabilitas keuangan perusahaan. Perubahan ini diharapkan meningkatkan likuiditas saham CSRA dan menarik minat investor institusi, sehingga berpotensi memberikan dorongan harga dalam jangka pendek hingga menengah. Miftahul merekomendasikan trading buy saham CSRA dengan target harga Rp 690, mengingat sentimen positif seperti kenaikan harga CPO global dan valuasi yang masih wajar.

Namun, untuk 10 emiten yang turun kelas, Miftahul menilai hal ini mencerminkan perlambatan atau penurunan kinerja, yang biasanya berdampak pada likuiditas dan kapitalisasi sahamnya.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai perpindahan papan pencatatan ini sudah dianggap priced in oleh pasar. Ia mengamati bahwa sebagian besar emiten yang berpindah papan mengalami pergerakan saham dalam tren yang acak (random), seperti CSRA, AXIO, CMNT, dan lainnya. Sementara saham seperti BANK, CBUT, dan SDRA sedang dalam fase koreksi.

Saham CSRA dinilai masih menarik untuk dicermati karena didukung kinerja positif, likuiditas yang meningkat, dan sentimen dari pasar CPO global.

Saham Populer Tunggu Momentum Kenaikan

HR1 29 Nov 2024 Kontan
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBRI, BBNI, BMRI, TLKM, ASII, dan SIDO mengalami kenaikan jumlah pemegang saham meskipun harga sahamnya turun sejak awal tahun. Daniel Agustinus, Direktur Kanaka Hita Solvera, menjelaskan bahwa investor cenderung membeli saham-saham fundamental kuat yang sedang mengalami penurunan harga, dengan harapan terjadi kenaikan di masa depan. Daniel merekomendasikan saham BBRI (target harga Rp 4.800), ASII (Rp 5.500), dan TLKM (Rp 3.200).

Hendra Wardhana, pendiri Stocknow.id, menambahkan bahwa saham populer seperti BBRI, TLKM, BBCA, dan GOTO menarik minat investor ritel karena likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, dan rekam jejak dividen yang konsisten. Saham ini juga sering masuk indeks unggulan seperti LQ45 atau IDX30, sehingga menarik perhatian pasar.

Namun, jumlah pemegang saham yang besar tidak selalu mencerminkan kinerja positif. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyebut fenomena "dead money," di mana investor bertahan meski saham tidak memberikan return yang menjanjikan, sering terjadi pada emiten seperti GOTO dan FREN yang belum mencapai titik profitabilitas.

Sebaliknya, saham dengan jumlah pemegang kecil seperti BREN dan PANI menunjukkan lonjakan harga signifikan meski memiliki risiko likuiditas yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor pada fundamental emiten dan aksi korporasi menjadi faktor utama yang menentukan pilihan investasi.

Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.


IPO Jumbo Hadapi Rintangan Berat

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait dengan Initial Public Offering (IPO) di penghujung tahun ini. Meskipun dua emiten besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), telah mengumumkan rencana IPO, langkah ini menjadi pertaruhan besar mengingat kondisi pasar yang tengah lesu. Sepanjang tahun ini, kebanyakan IPO didominasi oleh emiten kecil dan menengah dengan nilai emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang mencatatkan 79 emiten baru. Selain ketidakpastian pasar yang mendorong calon emiten menunda IPO, kualitas IPO juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan tindakan oknum yang mencoreng citra pasar modal, yang mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk lebih selektif dalam meloloskan emiten baru.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) sebagai dua calon emiten besar yang tengah menyambut kesempatan untuk melaksanakan IPO di tengah situasi pasar yang penuh tantangan.