;
Tags

Bursa

( 810 )

Relaksasi Aturan Pasar Saham, Mampukah Meningkatkan Daya Saing?

HR1 04 Mar 2025 Kontan (H)
Setelah IHSG anjlok akibat derasnya capital outflow, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah stabilisasi dengan menunda penerapan short selling dan mengkaji kebijakan buyback saham tanpa RUPS. Deputi Komisioner Pengawasan OJK, Aditya Jayaantara, menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan menjaga stabilitas harga saham dan memberi ruang bagi investor.

Langkah ini disambut baik oleh pelaku pasar, termasuk Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), Garibaldi Thohir, yang menyatakan kesiapan perusahaannya untuk menambah anggaran buyback saham jika kebijakan ini diberlakukan.

CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menilai buyback saham tanpa RUPS bisa menjadi katalis positif karena meningkatkan kepercayaan pasar, meskipun ia mengingatkan bahwa pemulihan pasar tidak cukup hanya dengan kebijakan ini. Fundamental ekonomi Indonesia juga harus diperkuat.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal, Fauzan Luthsa, mengkritisi bahwa pasar modal Indonesia terlalu bergantung pada emiten-emiten besar. Ia menilai, diversifikasi skala emiten perlu dilakukan agar tidak terlalu tergantung pada investor asing, yang dapat memperburuk volatilitas pasar saat terjadi capital outflow.

Meski OJK telah mengambil langkah untuk menahan kejatuhan IHSG, investor tetap harus mencermati faktor-faktor ekonomi yang lebih luas untuk memastikan stabilitas jangka panjang di pasar modal.

Pulihkan Pasar, Pelaku Ekonomi Bahu-Membahu

HR1 04 Mar 2025 Bisnis Indonesia (H)

Pasar saham Indonesia, terutama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengalami lonjakan signifikan pada 3 Maret 2025, dengan kenaikan hampir 4%, kalangan pengusaha dan pelaku pasar tetap bersikap hati-hati. Lonjakan tersebut mungkin hanya merupakan "technical rebound" dan belum cukup untuk mengonfirmasi pemulihan jangka panjang. Sentimen global yang masih tidak menentu, terutama terkait kebijakan AS dan faktor eksternal lainnya, memberikan tantangan besar bagi IHSG untuk mempertahankan momentum positif.

Optimisme tetap ada di kalangan beberapa pengusaha, seperti Bos Grup Adaro, Garibaldi ‘Boy’ Thohir, yang melihat koreksi pasar sebagai kesempatan untuk membeli saham dengan harga murah. Ia percaya bahwa banyak perusahaan domestik masih memiliki fundamental yang baik, dan pasar berpotensi pulih setelah adanya resolusi dalam negosiasi dagang internasional.

Namun, pelaku pasar tetap waspada, seperti yang disampaikan oleh analis dari Panin Sekuritas, Felix Darmawan, yang menyatakan bahwa kenaikan IHSG hanya bisa dianggap sebagai rebound teknis jika tidak didukung oleh volume perdagangan yang kuat dan perbaikan fundamental makroekonomi. Selain itu, meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah strategis, seperti menunda penerapan transaksi short selling dan mempertimbangkan opsi buyback saham tanpa persetujuan RUPS, sentimen pasar global dan ketidakpastian masih menjadi faktor dominan yang dapat mempengaruhi arah pasar saham Indonesia ke depan.


Bersaing di Tengah Persaingan Ketat, Siapa Bertahan?

HR1 03 Mar 2025 Kontan
Sektor operator telekomunikasi di Indonesia masih akan menghadapi persaingan harga ketat hingga pertengahan 2027, terutama di tengah proses konsolidasi pemain besar seperti Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dan XLSmart (EXCL-Smartfren).

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mencatat bahwa meskipun konsumsi data meningkat selama Ramadan dan Lebaran, persaingan tarif tetap menjadi tantangan bagi operator seperti Indosat (ISAT), XL Axiata (EXCL), dan Telkom Indonesia (TLKM), yang berdampak pada penurunan laba bersih mereka.

Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas, menilai bahwa meskipun penggabungan operator akan meningkatkan kapasitas jaringan dan kualitas layanan, persaingan harga masih akan berlanjut. Selain itu, pasar seluler Indonesia masih didominasi pelanggan prabayar, yang cenderung kurang loyal. Namun, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) diperkirakan tetap tumbuh dengan CAGR 3% pada 2024-2027, meski lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Niko Margaronis, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menyoroti bahwa lelang spektrum 1,4 GHz pada 2025 akan menjadi faktor yang memengaruhi industri telekomunikasi. Operator seluler besar (MNO) memiliki peluang lebih besar dibandingkan penyedia layanan broadband wireless access (BWA) dalam memanfaatkan spektrum baru untuk fixed mobile convergence (FMC).

Aurelia memberikan peringkat netral untuk sektor ini, dengan ISAT sebagai pilihan utama, sedangkan Niko memberi peringkat overweight, karena masih ada peluang pertumbuhan dari strategi integrasi layanan tetap dan seluler.

Lonjakan Transaksi Valas: Jual dan Beli Sama-Sama Naik

HR1 03 Mar 2025 Kontan
Pelemahan rupiah hingga Rp 16.580 per dollar AS pada 2 Maret 2025 mendorong lonjakan transaksi valuta asing (valas) di perbankan Indonesia, terutama dalam perdagangan dollar AS. Bank Danamon, Bank Jatim, dan BCA melaporkan peningkatan transaksi jual dan beli mata uang asing, dengan kenaikan tertinggi pada transaksi jual karena nasabah ingin ambil untung dari pelemahan rupiah.

Menurut Ivan Jaya, Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, transaksi jual dollar AS meningkat 15% sejak BI menurunkan suku bunga acuan, sementara pembelian dollar AS juga meningkat untuk kebutuhan bisnis dan pembayaran.

Edi Masrianto, Direktur Keuangan, Treasury & Global Service Bank Jatim, mencatat lonjakan transaksi valas hingga 48,43% secara tahunan, dengan transaksi jual naik 160% karena banyak nasabah, termasuk pekerja migran, memanfaatkan pelemahan rupiah untuk memperoleh keuntungan.

Dari sudut pandang ekonomi, Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, menilai lonjakan transaksi valas juga didorong oleh implementasi devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam, yang membuat eksportir lebih banyak menukarkan rupiah ke dollar AS. Sementara itu, investor ritel cenderung melakukan profit-taking, yang meningkatkan transaksi jual.

Meningkatnya aktivitas valas ini mencerminkan dampak langsung pelemahan rupiah, perubahan kebijakan suku bunga, dan strategi investor dalam menghadapi volatilitas pasar.

Cuan Dari Bisnis Mobil Listrik

HR1 01 Mar 2025 Kontan
PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) memanfaatkan peluang pertumbuhan mobil listrik di Indonesia dengan menjadi Agen Pemegang Merek (APM) Xpeng, merek kendaraan listrik asal China. Melalui anak usahanya, PT Era Inovasi Otomotif (EIO), ERAL menandatangani perjanjian distributor dengan Shenzhen Xiaopeng Motors Supply Chain Management Co. Ltd. dan Guangzhou Xiaopeng Motors Trading Co. Ltd.

Menurut Presiden Direktur ERAL, Djohan Sutanto, keputusan ini diambil karena perusahaan ingin terus mengikuti tren pasar dan menghadirkan produk berkualitas dari brand global. Djohan juga menekankan bahwa kendaraan listrik bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari gaya hidup modern yang mengedepankan teknologi dan mobilitas.

ERAL melihat pasar mobil listrik di Indonesia masih dalam tahap awal dengan penetrasi yang rendah, tetapi potensinya besar. Dukungan pemerintah dan infrastruktur kendaraan listrik yang berkembang menjadi faktor pendorong pertumbuhan industri ini. Namun, ERAL belum menyebutkan besaran investasi yang dialokasikan untuk pemasaran dan distribusi Xpeng.

Dari sisi keuangan, hingga kuartal III 2024, ERAL mencatat pendapatan Rp 3,42 triliun, tumbuh 27,13% dibanding tahun sebelumnya. Segmen aksesori dan IoT menjadi penyumbang utama pendapatan. Namun, laba bersih ERAL turun 4,22% menjadi Rp 157,32 miliar, akibat kenaikan biaya penjualan dan distribusi.

ERAL merupakan anak usaha PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dan telah melakukan IPO pada Agustus 2023 dengan harga Rp 390 per saham. Namun, hampir dua tahun setelahnya, harga saham ERAL turun 35,89% ke Rp 250 per saham per 28 Februari 2025, mencerminkan tekanan di pasar saham.

Perang Dagang Semakin Memanas

HR1 01 Mar 2025 Kontan
Kebijakan tarif impor tinggi yang diumumkan Presiden AS Donald Trump semakin meningkatkan ketidakpastian global. Trump berencana menerapkan tarif 25% terhadap Meksiko dan Kanada serta menaikkan tarif impor China menjadi total 20%, dengan alasan menekan peredaran fentanyl dari ketiga negara tersebut.

Meksiko dan Kanada menanggapi kebijakan ini dengan langkah diplomasi. Menteri Ekonomi Meksiko, Marcelo Ebrard, akan bertemu dengan pejabat perdagangan AS untuk mencari solusi, sementara Menteri Keamanan Publik Kanada, David McGuinty, menegaskan negaranya telah memperketat pengawasan perbatasan dan menangani penyelundupan narkotika.

Dari pihak China, pemerintahnya berjanji akan membalas kebijakan tarif Trump dengan tindakan balasan yang diperlukan, seperti yang sebelumnya dilakukan dengan mengenakan tarif 10% pada produk energi dan pertanian AS.

Dampak kebijakan ini langsung terasa di pasar global. Investor melakukan aksi jual besar-besaran terhadap mata uang berisiko dan aset kripto, sementara dolar AS menguat sebagai aset safe haven. Pasar saham Asia pun mengalami tekanan, dengan indeks saham Thailand turun 2,4% dan mendekati fase pasar lesu.

Di tengah kebijakan proteksionisme AS, kelompok BRICS yang dipimpin oleh Brasil mencari alternatif sistem pembayaran antaranggota untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan menekan biaya transaksi. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menekankan pentingnya diversifikasi alat pembayaran guna mengurangi kerentanan ekonomi akibat kebijakan perdagangan Trump.

Perang Dagang Semakin Memanas

HR1 01 Mar 2025 Kontan
Kebijakan tarif impor tinggi yang diumumkan Presiden AS Donald Trump semakin meningkatkan ketidakpastian global. Trump berencana menerapkan tarif 25% terhadap Meksiko dan Kanada serta menaikkan tarif impor China menjadi total 20%, dengan alasan menekan peredaran fentanyl dari ketiga negara tersebut.

Meksiko dan Kanada menanggapi kebijakan ini dengan langkah diplomasi. Menteri Ekonomi Meksiko, Marcelo Ebrard, akan bertemu dengan pejabat perdagangan AS untuk mencari solusi, sementara Menteri Keamanan Publik Kanada, David McGuinty, menegaskan negaranya telah memperketat pengawasan perbatasan dan menangani penyelundupan narkotika.

Dari pihak China, pemerintahnya berjanji akan membalas kebijakan tarif Trump dengan tindakan balasan yang diperlukan, seperti yang sebelumnya dilakukan dengan mengenakan tarif 10% pada produk energi dan pertanian AS.

Dampak kebijakan ini langsung terasa di pasar global. Investor melakukan aksi jual besar-besaran terhadap mata uang berisiko dan aset kripto, sementara dolar AS menguat sebagai aset safe haven. Pasar saham Asia pun mengalami tekanan, dengan indeks saham Thailand turun 2,4% dan mendekati fase pasar lesu.

Di tengah kebijakan proteksionisme AS, kelompok BRICS yang dipimpin oleh Brasil mencari alternatif sistem pembayaran antaranggota untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan menekan biaya transaksi. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menekankan pentingnya diversifikasi alat pembayaran guna mengurangi kerentanan ekonomi akibat kebijakan perdagangan Trump.

Ekonomi Terpuruk, Bursa Menurun

HR1 01 Mar 2025 Kontan (H)
Tahun 2025 menjadi tantangan berat bagi ekonomi Indonesia, ditandai dengan pelemahan IHSG dan rupiah yang mencapai level terburuk sejak pandemi Covid-19 dan krisis moneter 1998. Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, menilai bahwa ketidakpastian suku bunga The Fed dan perang dagang global mendorong investor asing keluar dari Indonesia.

Di pasar saham, Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal UI, menyoroti tidak adanya market maker yang mampu menahan arus jual asing, sementara Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, menyebut turunnya return on equity (ROE) dan kontribusi manufaktur sebagai penyebab lemahnya kepercayaan investor.

Hans Kwee, Co-Founder PasaRDana, mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, seperti penghapusan subsidi gas 3 kg yang justru merugikan ekonomi rakyat kecil. Iman Rachman, Direktur Utama BEI, menegaskan bahwa pertemuan dengan pelaku pasar diperlukan, tetapi kebijakan ekonomi yang tidak stabil tetap menjadi ancaman utama bagi investor.

Mengikis Kegelisahan Investor di Lantai Bursa

HR1 28 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Kondisi pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan cukup besar sejak awal tahun 2025, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk sebesar 6,69%. Pelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan peresmian bullion bank yang justru tidak memberikan dampak positif di pasar. Saham-saham seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan saham bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), dan PT Bank Mandiri (BMRI) tercatat mengalami penurunan signifikan.

Presiden Prabowo Subianto memberikan klarifikasi mengenai BPI Danantara, menyatakan bahwa lembaga ini dapat diaudit kapan pun dan oleh siapa pun, namun masalah tata kelola dan akuntabilitas tetap menjadi perhatian publik. Selain itu, MSCI juga memangkas peringkat Indonesia dalam risetnya, menyarankan bahwa investasi di China lebih menarik daripada di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan penurunan return on equity (ROE) di Indonesia dan tantangan dalam pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah, yang mengalokasikan dana sebesar Rp300 triliun untuk BPI Danantara, turut menciptakan ketidakpastian di pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar cemas dengan dampak kebijakan ini terhadap perekonomian. Menanggapi hal ini, Prabowo Subianto menekankan bahwa kebijakan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan sentimen positif kepada pelaku pasar modal, bukan justru menambah ketidakpastian. Pemerintah diharapkan bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi dan pasar modal.


BPI Danantara Memiliki Peluang Besar Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

KT1 27 Feb 2025 Investor Daily (H)
BPI Danantara memiliki peluang besar untuk berinvestasi di pasar saham terbuka guna memaksimalkan return dan diversifikasi aset. Dengan mengelola aset BUMN senilai US$ 900 miliar atau sekitar Rp14.715 triliun (kurs Rp16.350 per US$), lembaga ini dinilai memiliki potensi besar menjadi liquidity provider bagi pasar modal Indonesia dan mendorong IHSG ke level tertinggi. "Kami berpandangan bahwa peluang dana tersebut masuk ke pasar saham terbuka cukup besar, terutama dalam rangka diversifikasi dan  optimalisasi return. Namun, hal ini tentu perlua perhitungan yang matang serta mempertimbangkan momentum yang tepat," kata VP, Head of Marketing, Strategy & Planning PT Kiwoon Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmaranda. Menurutnya, dengan asumsi rata-rata nilai transaksi hari BEI tahun 2025 sebesar Rp13,5 triliun, angka itu hanya sekitar 4,5% dari dana kelolaan awal lembaga tersebut memiliki potensi likuiditas yang besar bagi pasar modal. Namun, Oktavinus juga mengingatkan adanya potensi risiko jika intervensi Danantara di pasar modal terlalu dominan. "Jika Danantara terlalu aktif di pasar, bisa menimbulkan ketergantungan yang berisiko bagi pergerakan pasar," tambahnya. (Yetede)