;
Tags

Bursa

( 810 )

RI Terpukul, Hadapi Tarif AS Tanpa Daya Tawar

HR1 08 Apr 2025 Kontan (H)
Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 2 April 2025 telah memicu kepanikan di pasar keuangan global. Bursa saham dunia berguguran, dengan indeks Hang Seng dan Shanghai Composite mengalami penurunan tajam masing-masing sebesar 13,22% dan 7,34%. Bahkan indeks saham di AS seperti Dow Jones dan S&P 500 pun ikut anjlok.

Indonesia sempat terlihat "aman" karena Bursa Efek Indonesia (BEI) masih libur Lebaran hingga 7 April, namun IHSG diproyeksi mengalami trading halt saat perdagangan dibuka kembali pada 8 April. Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, menilai risiko trading halt tinggi akibat tekanan sentimen negatif dari perang dagang dan tarif impor tinggi yang mulai berlaku pada 9 April 2025.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, juga menyatakan bahwa tekanan jual di pasar saham global bisa menyeret IHSG ke level 5.800 dalam waktu dekat, seperti saat krisis moneter 1997. Ia mengaitkan pelemahan IHSG dengan ancaman resesi global dan perang dagang yang makin memanas, terutama setelah China membalas kebijakan tarif AS.

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam merespons gejolak ini. Ia menyambut positif rencana Presiden Prabowo Subianto untuk bertemu pelaku pasar dan membahas mitigasi risiko akibat tarif AS sebagai langkah membangun kembali kepercayaan investor.

Efisiensi Energi Jadi Senjata Utama

HR1 08 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) pada tahun 2025 diprediksi akan menghadapi tekanan akibat penurunan permintaan dari pasar ritel dan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang masih menghantui industri semen domestik. Meski demikian, perusahaan masih memiliki prospek pertumbuhan laba berkat upaya efisiensi energi, terutama melalui pengoperasian pabrik Semen Grobogan.

Menurut Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, analis dari Maybank Sekuritas, peningkatan margin EBITDA INTP pada 2024 didorong oleh kontribusi pabrik Grobogan dan penurunan harga batubara. Mereka menilai bahwa peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif bisa memperkuat efisiensi dan mendorong margin EBITDA hingga 21,9% di tahun 2025, dengan proyeksi kenaikan laba sebesar 10%.

Manajemen INTP sendiri menargetkan penggunaan bahan bakar alternatif bisa mencapai 20% pada akhir tahun 2025, naik signifikan dari hanya 1% saat ini, meski masih terkendala pasokan sekam padi dan jagung sebagai bahan baku energi.

Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menyoroti lemahnya penjualan semen ritel, terutama di Pulau Jawa, dan menurunkan target harga saham INTP menjadi Rp 5.500. Sebaliknya, Richard Jonathan dari Ciptadana Sekuritas tetap optimis dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 6.800, sejalan dengan Kevin dan Jeff yang menetapkan target Rp 7.200 per saham.

Meskipun menghadapi tekanan permintaan, INTP dinilai masih solid berkat kas yang sehat dan peluang efisiensi dari inovasi energi serta pengembangan produk semen ramah lingkungan.

Saham Bank Diprediksi Melemah Pasca Libur Panjang

HR1 08 Apr 2025 Kontan
Saham perbankan Indonesia diprediksi akan mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan pasca libur panjang, terutama akibat sentimen negatif dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump. Sebelum libur, saham-saham bank besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Central Asia (BBCA) mengalami penguatan karena sentimen pembagian dividen.

Namun, menurut Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, penguatan tersebut kemungkinan tidak akan berlanjut. Ia menilai bahwa saat ini pasar mulai dihantui oleh ketidakpastian ekonomi global, potensi inflasi, serta arah suku bunga acuan. Indy memperkirakan koreksi akan terjadi pada saham BMRI dan BBNI, meski fundamental kedua bank dinilai masih kuat.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning dari Kiwoom Sekuritas, juga mengingatkan risiko capital outflow akibat tekanan eksternal, termasuk tarif resiprokal AS sebesar 32%. Ia menilai hal ini dapat menghambat penurunan suku bunga dan berdampak pada penyaluran kredit serta pendapatan bunga bank, terutama dari potensi penghapusan piutang UMKM bermasalah.

Meski penuh tekanan, Audi tetap merekomendasikan pembelian saham BBCA dengan target harga Rp 9.250 dan BMRI di Rp 5.450, menunjukkan bahwa peluang jangka panjang masih ada bagi investor yang selektif dan berhati-hati.

Properti Lesu Dihantam Lemahnya Daya Beli

HR1 07 Apr 2025 Kontan
Meskipun sektor properti Indonesia pada 2024 masih menunjukkan kinerja positif berkat kebijakan bebas PPN untuk rumah hingga Rp 5 miliar, tekanan ekonomi dan likuiditas global mulai membayangi prospek ke depan. Hal ini terlihat dari penurunan target pra penjualan 2025 oleh beberapa emiten besar seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, analis dari Maybank Sekuritas, menilai bahwa meski kebijakan relaksasi pajak membantu meningkatkan pra penjualan 2024, hal itu belum cukup untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Mereka mencermati kondisi makroekonomi yang makin menantang dan memperkirakan penurunan pendapatan dan laba untuk SMRA dan CTRA di 2025, meski ada proyeksi rebound pada 2026–2027.

Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas juga mengantisipasi tekanan pada pendapatan dan laba BSDE tahun ini karena melambatnya Indeks Harga Properti Residensial (IHPR), yang menurut Bank Indonesia, menunjukkan tren pelemahan di pasar primer pada kuartal IV 2024.

Walau begitu, sepanjang 2024, ketiga emiten mencatat pertumbuhan solid: BSDE mencetak laba Rp 4,4 triliun (naik 124% yoy), SMRA Rp 1,37 triliun (naik 79,3% yoy), dan CTRA Rp 2,12 triliun (naik 15% yoy). Hal ini menandakan sektor properti masih tangguh dalam jangka pendek, meski perlu waspada terhadap tekanan di tahun-tahun mendatang.

Analis tetap optimistis, dengan Kevin merekomendasikan beli CTRA (target Rp 1.050) dan Aqil merekomendasikan beli BSDE (target Rp 1.000), menandakan kepercayaan terhadap potensi jangka panjang sektor ini.

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Saat BI Libur 11 Hari

KT3 02 Apr 2025 Kompas

Pergerakan nilai tukar rupiah tengah menjadi sorotan publik. Rupiah yang sempat tembus Rp 16.600 per USD dikaitkan dengan situasi krisis moneter pada 1998. Meski dilihat dari berbagai aspek situasinya berbeda, depresiasi rupiah yang diperkirakan berlangsung dalam jangka waktu pendek patut diwaspadai. Sebab, nilai tukar yang tidak stabil, apalagi cenderung melemah, akan memengaruhi persepsi pasar serta berdampak pada sektor riil. Di tengah upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, seluruh kegiatan operasi moneter BI libur, seiring hari libur nasional dan cuti bersama hari raya Idul Fitri 2025. BI menyatakan, seluruh kegiatan operasional, termasuk operasi moneter rupiah dan valuta asing (valas) per 28 Maret-7 April 2025, ditiadakan. BI baru akan kembali beroperasi mulai Selasa (8/4). Berkaca dari pengalaman 2024, nilai tukar rupiah selama musim libur Lebaran tertekan.

Pada perdagangan terakhir per 5 April 2024, sehari sebelum BI libur, rupiah di level Rp 15.873 per USD, lebih rendah 2,81 % dibanding akhir 2023. Pada saat BI kembali ke pasar pada 16 April 2024, rupiah sudah terperosok hingga Rp 16.176 per USD atau melemah 4,77 % dibanding akhir 2023. Rupiah terdepresiasi 1,9 % hanya sepekan BI absen dari pasar keuangan. Di sisi lain, depresiasi rupiah kali ini terjadi seminggu setelah pasar saham terpuruk. Bukan kali pertama kondisi pelemahan nilai tukar berlangsung menjelang dan selama periode libur nasional. Oleh sebab itu, BI mengklaim telah mempersiapkan beberapa antisipasi dan mitigasi risiko ketika absen dari pasar. ”Setiap menghadapi libur panjang, BI sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi terkait kondisi moneter, termasuk nilai tukar rupiah,” kata Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Fitra Jusdiman, Kamis (27/3).

Selama libur panjang di Indonesia, pasar keuangan global tetap beroperasi dan bergerak normal. Berdasarkan data historis, pergerakan nilai tukar rupiah saat pasar kembali dibuka relatif sejalan dengan pergerakan pasar global. Artinya, apabila kurs USD secara global melemah, biasanya rupiah akan menguat. Demikian pula sebaliknya. Dalam lima tahun terakhir, nilai tukar rupiah tercatat dua kali menguat pada tahun 2020 dan 2023 saat pasar buka kembali setelah libur panjang Lebaran. Sebaliknya, rupiah dalam periode yang sama tercatat tiga kali melemah, yakni pada 2021, 2022, dan 2024. Kondisi rupiah yang bergejolak hingga menyentuh level Rp 16.600-an per USD belakangan disebabkan faktor eksternal dan domestik. Tekanan eksternal dibentuk oleh sentimen pasar keuangan merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump serta ketatnya kebijakan The Fed. Sementara dari sisi domestik, kebutuhan valas meningkat seiring dengan pembayaran dividen menjelang Lebaran. (Yoga)

IHSG Menguat, Tapi Masih Rentan Koreksi

HR1 27 Mar 2025 Kontan (H)
Menjelang libur Lebaran 2025, IHSG mencatatkan penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut. Pada Selasa (25/3) IHSG naik 1,21% ke 6.235,62, lalu melonjak 3,8% ke 6.472,36 pada Rabu (26/3). Kenaikan ini didorong oleh arus masuk dana asing (net buy) sebesar Rp 2,58 triliun, terutama pada saham perbankan besar seperti BMRI, BBCA, dan BBRI. Saham-saham ini menarik minat karena pembagian dividen dengan yield tinggi, seperti dijelaskan oleh Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas.

Meski tren positif ini menggembirakan, analis seperti Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisory dan Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo mengingatkan bahwa secara historis IHSG cenderung melemah usai libur panjang. Valdy Kurniawan dari Phintraco Sekuritas juga mewanti-wanti potensi profit-taking di hari perdagangan terakhir sebelum libur.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyoroti perlunya peran institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Taspen dalam menopang pasar saham saat kondisi bearish. Namun, aturan investasi yang kaku menjadi kendala utama yang perlu direvisi.

Meski IHSG menunjukkan penguatan, investor tetap perlu waspada terhadap potensi tekanan pasca-libur dan ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintah.

RS Hermina Tetap Mencatat Kinerja Positif

HR1 27 Mar 2025 Kontan
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksikan tetap mencatat pertumbuhan positif di tahun 2025, meskipun menghadapi tekanan margin akibat kenaikan beban operasional dan bunga. Analis Bahana Sekuritas, Arvin Lienardi, mencatat bahwa meski pendapatan dan laba bersih HEAL tumbuh masing-masing 16% dan 23% yoy di 2024, penurunan signifikan terjadi di kuartal IV akibat peningkatan beban pokok penjualan dan belanja operasional.

Namun demikian, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo optimistis terhadap prospek HEAL ke depan berkat rencana ekspansi rumah sakit baru dan membaiknya kondisi ekonomi domestik. Sementara itu, Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas menyoroti peluang peningkatan margin melalui skema Coordination of Benefit (CoB) dari program JKN serta implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).

Alvin juga memperkirakan HEAL akan mencetak pendapatan Rp 7,64 triliun dan laba bersih Rp 694 miliar pada 2025, didorong oleh penambahan kapasitas tempat tidur dan potensi peningkatan pasien CoB. Meski saham HEAL sedang tertekan, ketiga analis tersebut tetap menyematkan rekomendasi buy dengan target harga berbeda, mencerminkan keyakinan terhadap fundamental jangka panjang perusahaan, meskipun dibayangi tantangan tarif JKN dan kondisi makroekonomi.

Mencermati Peluang Investasi dari Dividen Bank

HR1 27 Mar 2025 Kontan
Bank-bank BUMN kompak menaikkan rasio pembayaran dividen dari laba tahun 2024, yang memicu penguatan harga saham mereka setelah sebelumnya tertekan. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat paling besar membagikan dividen, yakni 85% dari laba bersih, senilai Rp 51,74 triliun. Agustya Hendy Bernadi, Sekretaris Perusahaan BRI, menyatakan keputusan ini sudah memperhitungkan aspek permodalan dan likuiditas yang tetap kuat.

Bank Mandiri (BMRI) juga menaikkan rasio dividen menjadi 78%, dan Darmawan Junaidi, Direktur Utama BMRI, menegaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan dukungan pemegang saham dalam mempercepat ekspansi bisnis dan kontribusi terhadap pembangunan nasional. Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Tabungan Negara (BBTN) juga mengikuti langkah serupa dengan menaikkan rasio pembayaran dividen.

Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, langkah ini tak lepas dari peran Badan Pengelola Investasi Danantara dan proyek strategis pemerintah, serta berdampak positif terhadap minat investor. Namun, Ekky Topan dari Infovesta mengingatkan bahwa penguatan saham bersifat jangka pendek dan bisa bertahan hingga mendekati tanggal cum date dividen.

Kebijakan dividen jumbo ini menjadi angin segar bagi investor sekaligus menunjukkan optimisme perbankan BUMN terhadap keberlanjutan pertumbuhan dan stabilitas keuangan.

Bank Bermodal Besar Catatkan Kenaikan Laba

HR1 26 Mar 2025 Kontan (H)
Kinerja bank KBMI 4 (BCA, BRI, Mandiri, dan BNI) menunjukkan perbaikan di dua bulan pertama tahun ini, dengan mayoritas mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan yang positif. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan non-bunga yang kompak naik dua digit.

Bank Central Asia (BCA) mencetak laba tertinggi sebesar Rp 8,97 triliun (naik 8,46% yoy), meskipun laba bulanan di Februari menurun karena turunnya pendapatan bunga dan non-bunga. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyatakan bahwa profitabilitas BCA didorong oleh pertumbuhan kredit berkualitas dan efisiensi operasional.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat lonjakan laba bulanan Februari sebesar 129%, meski secara tahunan laba masih turun 18,11%. Bank Mandiri dan BNI masing-masing mencatat pertumbuhan laba tahunan sebesar 6,01% dan 6,25%.

Para direktur utama bank optimistis akan prospek 2025. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menyebut fokus pada penguatan dana murah dan layanan digital. Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, yakin inovasi digital dapat menopang bisnis berkelanjutan.

Dari sisi analis, Indy Naila melihat saham perbankan mulai menarik karena efek penurunan suku bunga dan momentum pembagian dividen, meskipun ia memperingatkan bahwa penguatan saham hanya bersifat jangka pendek karena risiko politik domestik. Ia menargetkan harga saham BBRI di Rp 5.025 dan BMRI di Rp 6.100. Nico Demus dari Pilarmas Investindo juga menekankan pentingnya kepercayaan pasar terhadap pemerintah dalam menjaga stabilitas saham bank dalam jangka panjang.

Meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan politik, prospek kinerja bank KBMI 4 tetap positif dengan strategi bisnis yang adaptif dan dukungan fundamental yang kuat.

GOTO Optimistis Lanjutkan Pertumbuhan

HR1 26 Mar 2025 Kontan
Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diproyeksikan terus membaik di tahun 2025, didorong oleh pertumbuhan pesat di segmen layanan on-demand dan fintech, khususnya bisnis pinjaman digital. Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas menyoroti bahwa lini lending GOTO menunjukkan pertumbuhan pesat dengan rasio NPL yang rendah, menjadikannya pendorong utama profitabilitas jangka panjang.

Etta Rusdiana Putra dari Maybank Sekuritas menyebut EBITDA disesuaikan GOTO pada 2024 berhasil melampaui ekspektasi, menunjukkan efisiensi kinerja dan sinergi antar unit bisnis. Ia memperkirakan pendapatan fintech GOTO akan tumbuh 48% secara tahunan pada 2025.

Sementara itu, Peter Miliken dari Deutsche Bank mencatat bahwa setelah merger dengan TikTok, GOTO mampu membalikkan kerugian menjadi keuntungan pada kuartal IV 2024. Ia juga menilai posisi finansial GOTO saat ini jauh lebih kuat dibanding tahun sebelumnya, dan menaikkan target harga saham GOTO menjadi Rp 115 dengan rating buy.

GOTO diprediksi mencatat pendapatan sebesar Rp 17,57 triliun dan laba bersih Rp 361 miliar pada 2025, dengan potensi EBITDA disesuaikan mencapai hingga Rp 1,6 triliun.