Ekonomi
( 40754 )Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah
Di Bandung, Jabar, minyak jelantah dikumpulkan dari rumah makan hingga rumah tinggal untuk dijadikan bahan bakar pesawat terbang. Penyetornya mendapat insentif uang hingga layanan kesehatan. Rabu (23/10) Revi Rivaldi (23) dan Fakri Arsyad (27) sudah memanaskan mobil dan menyiapkan puluhan jeriken di halaman kantor Noovoleum di Jalan Raden Patah, Kota Bandung. Mereka bersiap keliling Kota Bandung mengumpulkan minyak goreng bekas. Noovoleum adalah perusahaan rintisan yang memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan pengumpulan minyak goreng bekas dari rumah tangga dan produsen kecil. Minyak jelantah atau disebut used cooking oil (UCO) adalah sisa menggoreng aneka bahan makanan. Minyak goreng yang dikumpulkan ditukar dengan sejumlah insentif. Selanjutnya, Noovoleum akan menyalurkan minyak jelantah ini untuk dijadikan produk ramah lingkungan.
Mereka akan mendatangi sejumlah rumah makan, tempat katering, dan kafe di Kota Bandung. Tempat pertama adalah restoran di Jalan Gempol Wetan, Kelurahan Citarum. Aji Bimo (29), pengelola restoran, menyetor satu jeriken berisi minyak jelantah. Setelah dipindah ke wadah khusus, minyak ditimbang. Dengan konversi 1 kg setara 1,072 liter, jelantah milik Aji tercatat 10 liter. Tiap liter dihargai Rp 6.005. Hasil penjualan dikirim ke aplikasi UCOllect yang digagas Noovoleum. Setiap klien atau warga yang menyetor minyak telah memiliki akun di aplikasi tersebut. Mereka dapat mencairkan uang dari aplikasi itu via rekening bank atau aplikasi e-wallet atau dompet digital.
Tak hanya mendukung lingkungan dan mendapat insentif, penyetor berhak atas layanan kesehatan. Noovoleum berkolaborasi dengan Klinik Inggit Garnasih yang dibangun Pemprov Jabar dan Badan Amil Zakat Nasional di Bandung. Semua penyetor minyak jelantah ke penampungan di Klinik Inggit Garnasih akan mendapatkan diskon 25 % untuk layanan fisioterapi atau hidroterapi. Media Relation Noovoleum Andini Zalfa memaparkan, upaya itu mendapat respons positif. Noovoleum mengirim jelantah ke tiga perusahaan di Jakarta setidaknya sebulan sekali sebanyak 10-15 ton. Perusahaan-perusahaan itu mengolah minyak jelantah jadi salah satu bahan pembuatan avtur. (Yoga)
Sritex Ajukan Kasasi ke MA Atas Putusan Pailit
Setelah dinyatakan pailit oleh PN Semarang Kelas 1A, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex mengajukan kasasi ke MA. Aktivitas perusahaan diklaim masih berjalan normal. Sejumlah pihak mendorong agar sengketa dagang yang dialami perusahaan itu bisa segera diselesaikan. Putusan pailit terhadap Sritex dikeluarkan PN Semarang Kelas 1A Khusus, Senin (21/10). Putusan ini terkait permohonan pembatalan perdamaian yang diajukan PT Indo Bharat Rayon, yang menjadi kreditor dari empat perusahaan tekstil, yakni PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya.
Tuntutan pembatalan perdamaian dilayangkan karena keempat perusahaan itu dinilai lalai memenuhi kewajiban pembayaran utang. Kabar itu direspons Pemkab Sukoharjo dengan memanggil perwakilan Sritex untuk klarifikasi di kantor Sekda Kabupaten Sukoharjo, Jateng, Jumat (25/10). Dalam pertemuan itu, turut hadir sejumlah anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia. ”Kami lakukan upaya hukum berikutnya. Hari ini kami melayangkan kasasi ke MA. Kami juga menjelaskan beberapa hal karena kondisi masih berjalan normal,” kata GM HRD Sritex Group Hario Ngadiyono seusai pertemuan itu. Hario tak memungkiri sempat muncul keresahan di kalangan pekerja sesudah kabar pailit beredar.
Untuk itu, langkah awal yang ditempuh perusahaan ialah memberitahukan kepada para pekerja perihal upaya hukum yang tengah berjalan. Dalam kasus ini, perusahaan tidak berusaha memailitkan diri. Tuntutan pailit berasal dari pihak lain. Saat ini, lanjut Hario, mesin produksi masih beroperasi dalam tiga jam kerja seperti biasanya. Namun, utilitasnya hanya 60-70 %, karena terdapat kendala pemenuhan bahan baku. Dari empat perusahaan yang dituntut pailit, total terdapat sekitar 15.000 pekerja. Jumlah pekerja paling banyak berada di Sritex, Kabupaten Sukoharjo, yakni 10.000 orang sampai 11.000 orang. (Yoga)
BRICS Tinggalkan Dollar AS Sebagai Alat Transaksi
Ekonomi RI Stagnan 5 Persen pada 2025-2029
Gaya Militer Prabowo dalam Kebijakan Fiskal
Lender Investree Mengharapkan Pengembalian Dana
Jerat Undang-Undang Produk Bebas Deforestasi Uni Eropa
UU Deforestasi Eropa, Biaya Tinggi dan Resiko Kebocoran Data
Jerat UU Produk Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR) kian terasa. Indonesia perlu dana triliunan rupiah mengikutinya. Jika tak mengikuti, potensi pemasukan triliunan rupiah bakal melayang. Pemerintah RI juga khawatir Uni Eropa (UE) bisa mengakses data berharga atau rahasia negara. Data itu tak tergantikan, bahkan dengan triliunan rupiah sekalipun. Melalui EUDR, UE mensyaratkan tujuh komoditas dan turunannya yang masuk pasar negara anggotanya tidak terkait deforestasi. Komoditas berikut turunannya itu adalah kopi, minyak sawit, sapi, kedelai, kakao, kayu, arang, karet, daging olahan, furnitur, kertas, kulit, dan cokelat. Produk-produk itu harus melalui proses uji tuntas ketertelusuran berbasis geolokasi citra satelit dan pemosisi global (GPS) untuk membuktikan produk itu tak berasal dari lahan bekas penggundulan hutan setelah 31 Desember 2021. Komisi UE berencana menunda implementasi EUDR selama setahun.
Jika disetujui Parlemen UE, aturan ini berlaku mulai 30 Desember 2025 bagi perusahaan besar dan 30 Juni 2026 untuk perusahaan mikro dan kecil. Kementan menyebut, untuk produk turunan sawit saja, pasar UE menyerap 10 % per tahun dari total ekspor di pasar global. Ketua Tim Kerja Pemasaran Internasional Ditjen Perkebunan Kementan Muhammad Fauzan Ridha, Rabu (23/10) menjelaskan, pada 2023 total nilai ekspor produk turunan sawit ke pasar global 25,61 miliar USD, dimana 10,2 % merupakan pembelian pasar UE. ”Jika tak bisa masuk pasar UE gegara tak memenuhi persyaratan EUDR, Indonesia berpotensi kehilangan 2,17 miliar USD atau Rp 30 triliun-Rp 50 triliun per tahun,” kata Fauzan dalam diskusi publik ”Waktu Tambahan untuk EUDR: Bagaimana Memperkuat Strategi Industri Sawit Berkelanjutan?” yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara daring di Jakarta.
Hal itu akan menyebabkan neraca perdagangan pertanian defisit karena nilai ekspor sawit mendominasi 85 % total nilai ekspor komoditas pertanian. Indonesia bahkan berpotensi kehilangan pasar UE karena negara di kawasan itu dapat mengalihkan pembelian ke produsen sawit lain, terutama Malaysia. jika mengikuti aturan UE, Indonesia bakal mengeluarkan triliunan rupiah untuk membiayai petani kelapa sawit, karet, kopi dan kakao mendapatkan surat tanda daftar budidaya secara elektronik (e-STDB). E-STDB merupakan bukti administrasi legal usaha perkebunan. E-STDB memuat data pekebun, lahan perkebunan, dan pemetaan lokasi perkebunan. Dalam pemetaan lokasi perkebunan, koordinat dan poligon turut dicantumkan. Fauzan menuturkan, saat ini pemerintah fokus mempercepat penerbitan e-STDB bagi petani terdampak EUDR, yang menyasar 7,9 juta petani.
”Menurut rencana, pemerintah akan menggratiskan biaya penerbitan e-STDB bagi petani. Dimana satu e-STDB Rp 370.000. Dengan begitu, total dana yang dibutuhkan Rp 2,92 triliun,” tuturnya. Tak hanya uang triliunan rupiah yang berpotensi hilang atau dikeluarkan demi memenuhi persyaratan EUDR. Data pribadi, bahkan data yang dinilai rahasia oleh negara, berpotensi dapat diakses UE. Melalui EUDR, UE berhak memverifikasi data perusahaan dan asal lahan komoditas untuk memastikan produk yang masuk tidak berasal dari lahan bekas penggundulan hutan setelah 31 Desember 2021. Indonesia sedang bernegosiasi terkait akses data, termasuk kerahasiaan data geolokasi melalui e-STDB. Menurut Fauzan, pemerintah mengusulkan pemilihan data jika geolokasi dikaitkan dengan data pribadi khusus dan umum. (Yoga)
Prabowo Ingin Kabinet Merah Putih Menjadi Super Team yang Solid
LPS Mencatatkan Simpanan Kelas Kakap Mencapai Rp4.699,44 Triliun
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan simpanan kelas kakap per September 2024 tumbuh 1,5% secara bulanan (month to month/mtm) mencapai Rp4.699,44 triliun. Angka ini naik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi. Simpanan dengan tiering diatas Rp 5 miliar tersebut secara tahunan (yera on year/yoy) juga tumbuh 8,5%, namun dibandingkan dengan posisi Juni 2024 mengalami kontraksi 0,8%. Untuk tiering Rp2-5 miliar tercatat sebesar Rp 702,05 triliun tumbuh 0,5% (mtm) per September 2024. Berikutnya, simpanan dengan tiering Rp 1-2 miliar mengalami pertumbuhan 4,3% (yoy) atau 0,3% (mtm) menjadi Rp 530,75 triliun hingga kuartal III-2024.
Setelah beberapa bulan sebelumnya simpanan jumbo menurun karena korporasi menarik dananya untuk kebutuhan pemilihan kepala daerah (pilkada), sekarang dananya sudah kembali ke sistem perbankan. Disamping simpanan jumbo mengalami pertumbuhan, sebaliknya simpanan dengan tiering di bawah Rp 1 miliar mengalami penurunan secara bulanan. Seperti simpanan tiering Rp 500 juta sampai dengan Rp 1miliar terkontraksi 0,1% (mtm) menjadi Rp612,21 triliun, tapi secara tahunan tumbuh 6,4%. Berikutnya simpanan tiering Rp200-500 juta juga terkontraksi 0,1% (mtm) menjadi Rp 720,8 triliun. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









