;
Kategori

Ekonomi

( 40754 )

Bursa Hadirkan Produk Derivatif Lebih Beragam

04 Nov 2024
Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang memperluas pengembangan produk derivatif untuk meningkatkan variasi dan daya tarik pasar modal Indonesia. Salah satu produk yang tengah dirancang adalah Foreign Index Futures, yang memungkinkan investor mengakses pergerakan indeks saham luar negeri, seperti Hang Seng di Hong Kong dan Nikkei 225 di Jepang. Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, menjelaskan bahwa produk ini diharapkan memperluas eksposur investor dan meningkatkan diversifikasi investasi. Namun, penerbitan produk ini masih tergantung pada persetujuan lisensi dari pemilik indeks di negara tujuan.

Selain Foreign Index Futures, BEI juga sedang mempersiapkan peluncuran produk derivatif Single Stock Futures (SSF) yang direncanakan diresmikan pada November 2024. SSF sudah mulai diperdagangkan secara terbatas sejak Juli 2024 melalui PT Binaartha Sekuritas dan baru-baru ini melibatkan PT Ajaib Sekuritas Asia serta PT Phintraco Sekuritas.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, kehadiran produk derivatif baru dapat meningkatkan likuiditas pasar dan menjadi sarana lindung nilai (hedging) bagi investor. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa produk ini memberikan variasi strategi bagi investor untuk menghadapi fluktuasi pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa investasi di produk derivatif memerlukan pengalaman karena melibatkan leverage dan risiko tinggi, meskipun potensi imbal hasilnya juga besar.

Dengan adanya inovasi ini, BEI berharap bisa menarik minat lebih banyak investor, baik domestik maupun internasional, sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia.

Daya Beli Melemah, Performa Emiten Tertekan

04 Nov 2024
Kinerja emiten telekomunikasi di kuartal III-2024 mengalami tekanan akibat daya beli masyarakat yang melemah, persaingan ketat, dan musim yang kurang menguntungkan dibandingkan kuartal sebelumnya. Nicholas Santoso, analis Verdhana Sekuritas, menyebut bahwa kondisi ini menyulitkan operator menaikkan harga layanan seluler, sehingga berdampak pada profitabilitas mereka. Emiten seperti PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat laba bersih Rp 1,1 triliun, turun 21% secara kuartalan meskipun meningkat 30% secara tahunan. Di sisi lain, laba konsolidasi TLKM juga turun 12,3% yoy menjadi Rp 5,9 triliun pada kuartal tersebut.

Giovanni Dustin, analis Indo Premier Sekuritas, menyoroti bahwa XL Axiata (EXCL) mengalami kontraksi kuartalan meskipun pendapatan tumbuh 5% yoy. Namun, langkah EXCL menaikkan harga paket sekitar 5% di awal September 2024 diharapkan meningkatkan kinerja di kuartal IV dan seterusnya.

Paulus Jimmy dari Sucor Sekuritas menilai ISAT sebagai pilihan unggul di sektor ini karena pertumbuhan pangsa pasar, ekspansi agresif, dan perbaikan pendapatan rata-rata pengguna (ARPU). Ia juga mencatat bahwa EXCL memiliki prospek baik, namun TLKM tetap menarik sebagai saham dividen dengan imbal hasil tinggi.

Ke depan, pilkada dan liburan akhir tahun diharapkan menjadi katalis positif yang mendorong pemulihan sektor telekomunikasi, terutama melalui peningkatan penggunaan data. Meski demikian, tantangan dari daya beli yang lemah dan persaingan ketat tetap menjadi perhatian utama.

Kinerja Reksadana Saham Masih Lemah

04 Nov 2024
Kinerja indeks reksadana mengalami tekanan sepanjang Oktober 2024, dengan hanya reksadana pasar uang yang mencatatkan kinerja positif sebesar 0,38% secara bulanan. Secara year-to-date (ytd), reksadana pendapatan tetap dan pasar uang tetap unggul dengan return masing-masing 3,32% dan 3,9%. Sebaliknya, reksadana saham mencatatkan kinerja negatif sebesar -2,51% ytd.

Hanif Mantiq, Direktur Utama Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR AM), menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh sikap pasar yang cenderung wait and see, terutama terkait kinerja saham blue-chip seperti ASII, BBRI, TLKM, dan UNVR, yang mencatat penurunan signifikan dalam sebulan terakhir. Sentimen global juga memengaruhi, terutama ketidakpastian terkait Pilpres AS. Hanif memprediksi, kemenangan Donald Trump dapat mendorong arus dana ke pasar negara berkembang, sedangkan kemenangan Kamala Harris berpotensi menguntungkan instrumen pendapatan tetap karena kebijakan fiskal yang lebih konservatif.

Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment, menambahkan bahwa kepemimpinan Trump yang tidak terduga bisa membawa risiko ketidakstabilan pada pasar saham global, termasuk pasar domestik. Namun, reksadana pasar uang tetap menjadi pilihan stabil karena portofolionya yang fokus pada investasi jangka pendek seperti deposito dan obligasi korporasi di bawah satu tahun.

Secara keseluruhan, kinerja reksadana saat ini menghadapi tantangan dari faktor global dan ketidakpastian politik, namun instrumen pasar uang tetap menawarkan stabilitas di tengah volatilitas.

DMAS Manfaatkan Kredit BMRI untuk Kawasan Industri

02 Nov 2024

PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) berhasil memperoleh fasilitas pinjaman senilai Rp1,5 triliun dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) untuk mendukung pengembangan Kawasan Deltamas di Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, menyatakan bahwa pinjaman modal kerja non-revolving ini akan digunakan dalam jangka waktu lima tahun untuk memperkuat operasional perusahaan dan meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan. Pinjaman tersebut dijamin oleh aset tanah di Kawasan Deltamas.

Sepanjang Januari–September 2024, DMAS mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,12 triliun, naik signifikan 84,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen industri menjadi kontributor utama pendapatan usaha sebesar Rp1,5 triliun, dengan sektor pusat data (data center) menyumbang 64,5% dari pendapatan tersebut. Kawasan Greenland International Industrial Center (GICC) terus menarik minat investor asing, menjadikan sektor data center sebagai andalan utama.

Selain itu, segmen hunian berkontribusi Rp92,3 miliar, segmen komersial Rp34,3 miliar, dan segmen sewa serta hotel masing-masing menyumbang Rp12,3 miliar dan Rp12,1 miliar. Secara keseluruhan, DMAS berhasil mencapai 93,6% dari target pendapatan 2024 dengan total pendapatan usaha Rp1,7 triliun, naik 71,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Garuda Indonesia Tambah Jalur Penerbangan Baru

02 Nov 2024

PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), di bawah kepemimpinan Direktur Utama Irfan Setiaputra, akan menerima empat pesawat baru jenis Boeing 737-800NG secara bertahap hingga akhir tahun 2024. Dengan penambahan ini, Garuda akan mengoperasikan setidaknya 76 pesawat hingga akhir tahun. Irfan juga mengungkapkan bahwa maskapai ini berencana menambah total 8 pesawat sepanjang 2024, termasuk 4 narrow body dan 4 wide body (2 Boeing 777-300ER dan 2 Airbus 330-300).

Berdasarkan laporan Kementerian BUMN, Garuda Indonesia menargetkan pengoperasian 98 armada pada akhir 2026, terdiri dari berbagai jenis pesawat, seperti Boeing 737-800 dan Airbus A330-300. Hingga akhir 2024, jumlah pesawat yang dioperasikan diproyeksikan mencapai 82 unit, dan bertambah menjadi 89 pada 2025.

Garuda juga berencana membuka rute baru, termasuk dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Balikpapan, Bali, Singapura, dan menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Strategi ini diharapkan memperluas jaringan penerbangan domestik dan internasional serta mendukung pengembangan transportasi udara di kawasan IKN.

BRICS Memicu Pergeseran Dana Asing

02 Nov 2024
Arus dana asing keluar dari pasar keuangan Indonesia meningkat dalam sepekan terakhir, baik di pasar saham maupun obligasi. Di pasar saham, terjadi aksi jual bersih asing senilai Rp 2,64 triliun dalam sepekan, sementara pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan kepemilikan asing sebesar Rp 3,1 triliun.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai bahwa jika Indonesia bergabung dengan BRICS, hal ini akan menguntungkan investor dari China tetapi mungkin kurang menarik bagi investor Barat, terutama di tengah ketidakpastian politik dan pemerintahan mendatang di bawah Prabowo Subianto. Selama Januari-September 2024, investasi China di Indonesia mencapai US$6,06 miliar atau 60% dari total investasi negara-negara BRICS.

Fikri C. Permana, Senior Economist dari KB Valbury Sekuritas, menyebutkan bahwa investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS dan emas di tengah ketidakpastian global, yang semakin diperburuk oleh kemungkinan kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS. Sementara itu, Hendra Wardana, Praktisi Pasar Modal dari Stocknow.id, menilai bahwa kekhawatiran investor juga disebabkan oleh potensi perubahan arah kebijakan ekonomi Indonesia menuju BRICS, yang berisiko memperburuk hubungan dengan negara-negara Barat.

Sebaliknya, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas melihat dampak positif jika Indonesia bergabung dengan BRICS, karena BRICS memiliki misi untuk memperkuat ekonomi anggotanya dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Populasi BRICS yang besar dan nilai ekonominya yang mencapai 28% dari perekonomian global bisa memberikan dukungan bagi stabilitas ekonomi Indonesia ke depan.

Secara keseluruhan, prospek aliran dana asing ke Indonesia di akhir 2024 hingga 2025 masih penuh tantangan, dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan perubahan arah kebijakan ekonomi.

Emas Picu Inflasi, Bukan Kenaikan Daya Beli

02 Nov 2024

Inflasi di Indonesia pada Oktober 2024 mencapai 0,08% (mtm) setelah mengalami deflasi selama lima bulan. Amalia Adininggar Widyasanti, Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi bulan ini dengan kontribusi sebesar 0,06%. Secara tahunan, inflasi emas perhiasan mencapai 35,82% (yoy), seiring meningkatnya harga emas global akibat ketidakpastian geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah dan Ukraina-Rusia, serta kebijakan moneter The Fed yang menurunkan suku bunga, mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman.

Selain emas, inflasi juga disumbang oleh komoditas lain, seperti daging ayam ras, bawang merah, dan tomat. Meski inflasi inti naik menjadi 0,22% (mtm) dan 2,21% (yoy), komponen harga bergejolak tetap mencatat deflasi 0,11% (mtm).

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai kenaikan inflasi ini belum menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi tahunan yang rendah sejak 2021 dan tren PMI Manufaktur di bawah 50 menunjukkan lemahnya konsumsi rumah tangga. Bhima memperkirakan inflasi akan meningkat pada awal 2025 dengan penerapan tarif PPN 12%, yang bisa menekan permintaan lebih lanjut. Ia menyarankan pemerintah segera meluncurkan stimulus berupa peningkatan upah minimum dan perluasan bantuan sosial bagi masyarakat kelas menengah yang rentan.

Laba Meroket, Prospek Emiten Energi Terbarukan Cerah

02 Nov 2024
Laporan kinerja emiten sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan laba meski pendapatan sedikit tertekan. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten EBT dengan kapitalisasi pasar terbesar, mengalami penurunan pendapatan 0,89% secara tahunan menjadi USD 441,29 juta, tetapi berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 1,87% menjadi USD 86,05 juta. Direktur Utama BREN, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan bahwa gangguan pada segmen panas bumi yang memengaruhi output telah diatasi pada September 2024, sehingga ada peluang peningkatan kinerja ke depan.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) juga mencatat kinerja serupa, dengan pendapatan yang sedikit menurun tetapi laba bersih masih bertumbuh. Hendra Wardana, pendiri Stocknow.id, menilai bahwa pertumbuhan laba di tengah penurunan pendapatan menunjukkan kemampuan perusahaan EBT dalam mengelola efisiensi dan menjaga profitabilitas.

Miftahul Khaer, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, optimistis dengan prospek jangka panjang sektor EBT, terutama karena potensi dukungan kebijakan dari pemerintahan baru yang mendorong swasembada energi melalui EBT. Namun, ia mengingatkan investor untuk waspada terhadap valuasi yang cenderung overvalue pada beberapa saham EBT, sementara William Wibowo dari Kanaka Hita Solvera dan Hendra memberikan rekomendasi beli untuk beberapa saham EBT, seperti PGEO dan ARKO.

United Bike Genjot Produksi Kendaraan Listrik

02 Nov 2024
PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD), perusahaan yang berdiri sejak 1988 dan dikenal melalui produk United Bike, terus memperkuat posisi dalam tren kendaraan listrik global. Dalam beberapa tahun terakhir, UNTD memperluas lini produk dengan memasukkan sepeda listrik dan motor listrik, serta membuka fasilitas manufaktur khusus kendaraan listrik pada 2023. Langkah ini didorong oleh meningkatnya permintaan kendaraan listrik, terutama di pasar internasional seperti Jerman, AS, dan Singapura.

Direktur UNTD, Andrew Mulyadi, menyatakan bahwa perusahaan akan berfokus pada produksi sepeda, sepeda listrik, dan motor listrik untuk jangka panjang, seiring dengan tren pasar yang bergerak ke arah kendaraan listrik. UNTD juga melakukan penawaran saham di Bursa Efek Indonesia pada awal 2024, mengumpulkan dana Rp 400 miliar untuk modal kerja dan bahan baku.

UNTD menargetkan pendapatan Rp 700 miliar pada 2024, dengan laba Rp 15 miliar, dan terus berupaya memperluas pasar domestik serta internasional. Meski target penjualan motor listrik tahun ini belum tercapai, UNTD tetap optimis, dengan rencana membuka 50 toko resmi di akhir 2024 dan menambah kapasitas produksi dengan belanja modal sebesar Rp 50 miliar.

Performa Cemerlang Bank Digital

02 Nov 2024
Meskipun beban bunga yang tinggi, bank digital tetap mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih. PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), misalnya, mencatat kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 149,4% menjadi Rp 677,94 miliar. Namun, laba bersihnya hanya naik 9,54% menjadi Rp 107,13 miliar karena beban bunga yang melonjak drastis. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyatakan bahwa bank ini mampu bertahan dengan strategi yang tepat.

PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan laba bersih 130,9% menjadi Rp 33,9 miliar, didukung net interest margin (NIM) yang naik menjadi 4,35%. Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut, optimistis dengan strategi produk mereka yang dinilai efisien.

Sementara itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengalami penurunan laba bersih sebesar 10,69% menjadi Rp 302,59 miliar akibat peningkatan biaya pencadangan, meskipun pendapatan bunga bersihnya naik 8,18%. Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, menyatakan bahwa mereka akan disiplin dalam mengelola biaya.

M Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan bahwa konsistensi bank digital dalam mencetak laba bisa menarik investor, terutama dengan adanya potensi inovasi di masa depan.