;

Rumitnya Rute Transjakarta

Ekonomi Yoga 06 Feb 2024 Kompas
Rumitnya Rute Transjakarta

Sejumlah calon penumpang tengah menunggu datangnya bus Transjakarta di Halte GBK 2, Jakapus, Senin (5/2). Beberapa calon penumpang hanya duduk sembari memainkan gawai, sedangkan dua penumpang lain sibuk melihat peta di dinding halte. Hampir setahun menggunakan layanan Transjakarta, warga Jakpus, Ayu Utami (28), masih kebingungan mengenai rute Transjakarta. Jika tidak melihat peta di dinding halte atau di gawainya, ia tidak paham. ”Banyak sekali rute yang dioperasikan Transjakarta, tetapi saya masih bingung. Harus melihat dengan jeli rute yang dituju lewat halte mana saja,” ujarnya. Ayu hanya menghafal nama halte terakhir yang dituju. Biasanya, ia akan bertanya ke petugas. Tidak adanya petugas pramusapa di halte dinilai menyusahkan penumpang awam sepertinya. ”Transjakarta juga sering melakukan perubahan rute. Jadi, saya harus menghafal ulang,” kata Ayu.

Warga Ciputat, Tangsel, yang juga pembaca Kompas, Renville Almatsier, menyebut, kurangnya petunjuk rute bus di halte Transjakarta bagi calon pengguna jasa. ”Untuk mempermudah pengguna transportasi, perlu leaflet khusus rute perjalanan Transjakarta yang dicetak, secara lengkap memuat rute perjalanan KRL, MRT, dan LRT yang terintegrasi,” katanya. Di luar negeri, di tiap halte ada informasi mengenai nomor-nomor bus yang melalui halte bersangkutan. Bahkan, di London dan Tokyo, penumpang dapat membeli kartu pos khusus bergambar jaringan lalu lintas kereta yang dibedakan warnanya sesuai jalur masing-masing. Sementara di Singapura, informasi jaringan transportasi kota dititipkan pada brosur pusat belanja.

Warga Depok, Rini Fitrasari (26), sangat menyesali sejumlah kendala pada layanan Transjakarta. Sejak adanya penyesuaian rute Terminal Depok-Halte BKN, ia harus membayar dua kali lipat, yang menyebabkan Rini beralih ke transportasi publik lain. ”Biasanya untuk ke tujuan mana pun, dari Depok hanya perlu transit di BKN dan tidak perlu membayar lagi. Tapi ini harus keluar dari halten dulu dan tap-in lagi. Jadi, memakan biaya dua kali lipat. Belum lagi tidak ada petunjuk yang jelas di pemberhentian tersebut,” ujarnya.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), David Tjahja, mengatakan, ”Halte yang ganti nama juga membuat bingung penumpang. Banyak juga peta belum diganti jika ada perubahan. Jadi, agak menyulitkan. Terutama bagi orang baru,”. David mengatakan, peta Transjakarta harus ada di semua halte karena tidak semua pengguna layanan mengakses internet. Apalagi, banyak turis atau warga luar kota di Jakarta. Peta yang tertera di halte juga harus sesuai dengan rute yang dioperasikan saat ini, lengkap dengan nomor bus. Tidak hanya bus, pada layanan Mikrotrans, kode dan informasi terkait rute juga masih sulit dihafalkan. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :