ENERGI TERBARUKAN , Keekonomian Urgen untuk Akselerasi
Lambatnya perkembangan energi terbarukan di Indonesia dinilai turut dipicu skala keekonomian yang belum tercapai serta kalah bersaing dengan energi fosil. Selain kejelasan regulasi, kerja sama transisi energi yang adil atau JETP diharapkan dapat mengakselerasi capaian energi terbarukan, terutama untuk mengantisipasi perubahan iklim. Menurut data Kementerian ESDM, hingga akhir tahun 2022, realisasi energi terbarukan dalam bauran energi primer nasional baru 12,3 %. Padahal, Indonesia menargetkan dapat mencapai porsi EBT 23 % pada tahun 2025.
Ketua I Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Bobby Gafur Umar, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (18/8) mengatakan, salah satu kendala yang membuat perkembangan energi terbarukan lambat adalah terkait keekonomian. Kendati sudah turun, harga energi terbarukan masih kalah bersaing dengan energi fosil yang mendapat subsidi. Menurut Bobby, kondisi tersebut membuat investasi pembangkit energi terbarukan menjadi tidak menarik. ”Jadi dua hal yang menjadi kunci (akselerasi energi terbarukan) adalah nilai keekonomian dan program yang jelas dan pasti. Bukan kebijakan yang tiba-tiba berubah,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023